Minggu, 12 April 2026

Kebakaran

Hanya Tinggal Baju di Badan, Nenek Marlena Terduduk Lemas

Banyak warga korban kebakaran di RT 22 Straat II tak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Hanya baju yang menempel di badan.

Penulis: tribunkaltim |
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Kebakaran di RT 22 Straat II yang menghanguskan 19 unit rumah, Senin (13/7/2015). 

Laporan wartawan Tribun Kaltim Amalia Husnul Arofiati, Rudy Firmanto, dan Siti Zubaidah

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN -  Banyak warga korban kebakaran di RT 22 Straat II tak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Hanya baju yang menempel di badan.

Nenek Marlena terduduk lemas seorang diri di tenda pengungsian. Duduk di tanah yang dilapisi terpal biru, matanya tampak menerawang jauh.

"Rumah saya hangus terbakar, saya tidak punya apa-apa lagi nak, ini baju hanya tinggal di badan," kata wanita asal Madura, Jawa Timur itu.

Nenek Marlena menyantap kolak pisang pemberian warga untuk berbuka. Nasi kotak yang dibagikan belum disentuhnya. Wanita yang kesehariannya berjualan kembang di Pasar Rapak tinggal berdua dengan anaknya Mu'in (50).

"Saya tinggal berdua dengan Mu'in, anak saya sebenarnya ada tiga, dua sudah meninggal, tinggal Mu'in saja yang menemani saya," katanya lirih.

Baca: Uang Puluhan Juta Hangus Terbakar, Keluarga Ini Batal Mudik

Dengan mata berkaca-kaca nenek berusia 70 tahun itu tetap masih mengucapkan syukur saat musibah menghampiri hidupnya.

"Tadi ada yang bilang rumah saya kebakaran. Saya langsung gemetaran, la ilaha illalah hangus rumah saya. Ke sini, api sudah besar, tidak tahu sudah bagaimana, semua tidak bisa diselamatkan," tuturnya.

Saat itu, anaknya bernama Mu'in tidak tahu di mana. "Saya tidak tahu anak saya ke mana, api sudah besar saat sampai di rumah, isi rumah televisi, lemari, dan lainnya, tidak selamat," katanya.

Tidak ada rencana Lebaran untuk pulang kampung. Beli baju baru seperti orang lain pun tak terlintas dibenaknya.

"Untuk Lebaran saja sudah tidak dipikir lagi, masih punya tempat tinggal sudah syukur," katanya.Ia menyebutkan keluarga di Balikpapan tidak banyak.

"Di kampung (Madura) juga tidak ada, saudara saya tinggal satu di sana, rumah di sana juga sudah dijual," ungkapnya.

Wanita yang sudah lupa kapan merantau ke Balikpapan ini mengaku hanya dengan minum kolak pisang sudah membuatnya kenyang.

"Kalau begini keadaannya minum saja sudah kenyang. Alhamdulillah bisa minum kolak pisang sudah cukup, semoga bisa sampai besok," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved