Selasa, 7 April 2026

Dekat Ibukota Provinsi, SMP Ini Hanya Miliki Dua Ruangan

Kondisi demikian membuat konsentrasi siswa saat belajar menjadi sedikit terganggu, lantaran berada di satu ruangan dan hanya disekat triplek.

TRIBUN KALTIM / MUHAMMAD ARFAN
Martinus, guru SMP Satu Atap Desa Teras Nawang Kecamatan Tanjung Palas (Kabupaten Bulungan), memperlihatkan ruangan sekolah yang disekat agar menghasilkan dua kelas dalam satu ruangan. Satu ruangan lainnya juga disekat menjadi satu kelas dan ruang guru. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Giovani (13) dan Kahang (13), pagi itu sedang duduk di pelataran halaman rumah warga di Desa Teras Nawang, Kecamatan Tanjung Palas (Bulungan). Ia sedang istirahat setelah bermain dengan teman sebayanya. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu (16/8/2015).

Tribun yang melintas, lantas mendekati keduanya. Usut punya usut, generasi muda Teras Nawang ini tercatat sebagai siswa di SMP Satu Atap Teras Nawang yang dibangun dengan partisipasi masyarakat menggunakan dana APBN-P 2011 melalui program block grant pengembangan SD-SMP satu atap.

Keduanya tidak canggung mengenyam pendidikan di sekolah yang bisa dibilang jauh lebih sederhana dibanding sekolah-sekolah di kota-kota, minimal seperti sekolah di Tanjung Selor, yang notabene sebagai ibukota Provinsi Kaltara.

Martinus, salah seorang tenaga pengajar AMP Satu Atap Teras Nawang sempat mengantarkan Tribun ke lokasi berdirinya sekolah. Dari gerbang desa yang terletak di bibir sungai Kayan, sekolah tersebut bisa diakses dalam durasi dua menit melewati jalan-jalan setapak yang telah disemenisasi.

Benar saja, kondisi sekolah memang cukup sederhana. Hanya ada dua ruangan. Bangku dan tempat duduk siswa masih terbuat dari kayu, begitu pula fasilitas di ruang guru yang belum terlalu memadai. (Baca juga: Disdik Janjikan Penambahan Ruang Kelas Baru, Tapi Ini Syaratnya)

Namun yang mencengangkan, dua ruangan utama disulap menjadi empat ruangan, setelah diberi sekat triplek kayu.

Satu ruangan disekat hingga menjadi dua kelas yakni kelas VII dan kelas IX yang masing-masing luasnya kurang lebih 4x4 meter. Begitu juga satu ruangan lainnya disekat sehingga dijadikan kelas VIII dan ruang guru.

Martinus menyatakan, jumlah siswa di sekolah ini hanya mencapai 41 orang, terbagi 14 siswa kelas VII, 17 siswa kelas VIII, dan 10 siswa kelas IX. Jumlah guru hanya ada 8 orang plus kepala sekolah.

Kondisi demikian membuat konsentrasi siswa saat belajar menjadi sedikit terganggu, lantaran berada di satu ruangan dan hanya disekat triplek.

“Sedikit terganggu konsentrasinya kalau guru kami sama-sama menerangkan di atas,” sebut Giovani yang duduk di bangku kelas IX.

Lajung, sang Kepala SMP Satu Atap Teras Nawang, menyatakan, meski kondisi sekolah belum memadai, namun tidak mengurangi semangat guru-guru untuk terus memberikan ilmu dalam rangka mencerdaskan anak-anak bangsa.

“Kami sudah berusaha dengan mengusulkan penambahan ruang kelas baru kepada Pemda tahun 2014 lalu, namun sampai sekarang belum ada. Kami tetap menunggu sampai sekarang. Kami juga berharap ada bantuan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar siswa seperti alat praktikum, buku, dan meja kursi siswa,” pintanya.

Perjuangan generasi muda Teras Nawang memang tiada hentinya untuk mengenyam pendidikan. Di desa Teras Nawang, selain SMP Satu Atap juga sudah tersedia 1 (satu) Sekolah Dasar (SD) yakni SD 008 Tanjung Palas.

Bagaimana sekolah SMA/SMK/ sederajat?

Tak ada SMA/SMK di Teras Nawang. Untuk mengenyam jenjang pendidikan atas itu, pilihannya hanya dua, sekolah ke Tanjung Selor atau ke Tanjung Palas. Tak sedikit modal yang harus dikeluarkan orang tua. Setiap berangkat ataupun pulang sekolah, orang tua harus menyiapkan uang transportasi Rp 3 ribu bagi anak-anaknya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved