Tragedi Serangan Buaya
Buaya Monster Ini Intai Mangsa, Gigit, dan Seret Korban ke Sungai
Buaya rawan yang ganas ini mulai mengintai mangsa. Belum lama ini, warga memergoki buaya berkeliaran di tengah kota.
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Ancaman buaya Sangatta atau biasa dijuluki 'Monster Sangatta' di sepanjang aliran sungai kawasan Kutai Timur bukan sekadar rumor.
Buaya rawan yang ganas ini mulai mengintai mangsa. Belum lama ini, warga memergoki buaya berkeliaran di tengah kota. Sabtu (19/9/2015) kemarin, Nurhayah, warga Desa Sangkima Lama, Sangatta Selatan nyaris dimangsa Monster Sangatta. Beruntung dia berhasil melepaskan diri dari maut.
Hari sudah sore ketika Tribunkaltim.co menemui Nurhayah di rumah anaknya di kawasan Gg Damai, Sangatta Utara. Ia duduk di atas selembar kasur di ruang tamu rumah barak tiga pintu miliknya. Perban berwarna putih yang diselumuti noda darah dan obat merah membungkus kaki kirinya, mulai pergelangan kaki hingga dekat jemari.
Ibu enam anak yang berusia 57 tahun ini nyaris menjadi korban keganasan buaya di Sungai Merah yang merupakan bagian dari aliran Sungai Muara Sangkima, Jumat (18/9/2015) siang lalu. Seekor buaya muara sepanjang 1,5 meter dengan lebar 25 cm tiba-tiba menyambar pergelangan kakinya saat Nurhayah asyik memancing di pinggiran sungai.
Baca:Jasad Andry Bertahan Seminggu di Perut Monster, Warga Belah 7 ...
Buaya sempat menggigit kakinya, lalu menyeret dan diputar di air sungai selama sekitar 5 menit, sebelum akhirnya terlepas. Akibatnya, pergelangan hingga punggung kakinya mengalami luka robek sepanjang 10 cm.
"Ikan yang ibu dapat loncat dari ember. Ibu berupaya tangkap, mundur beberapa langkah, kemudian tercebur di sungai. Pas di dalam sungai itu, tiba-tiba kaki ibu terasa dicengkram kuat. Tidak sakit, tapi kemudian ibu terseret dan diputar-putarnya ke tengah sungai. Ada sekitar 5 menit, sebelum kaki ibu terlepas," tutur pensiunan karyawan PT Pertamina Field Sangatta itu.
Begitu terlepas dari gigitan buaya, Nurhayah langsung berenang ke pinggir sungai. Memanjat tebing setinggi empat meter, tempatnya terjatuh sambil berpegang dahan tanaman yang ada.
"Sambil berenang ke pinggir, Ibu hanya berbisik dalam hati. Ya Allah.. Selamatkan saya. Itu terus ibu ucapkan berulang-ulang. Bahkan ketika memanjat tebing, satu kaki ibu masih ada di air. Kalau memang buaya itu mau bisa saja menyambar Ibu lagi. Tapi Alhamdulillah tidak. Allah masih memberi umur buat Ibu," ungkapnya.
Sampai di atas, Nurhayah mengambil sepatu boot dan ember berisi ikan hasil pancingannya. Dengan kaki yang mengucurkan darah ia berjalan mencari orang yang bisa membantunya.
"Tempat ibu mancing itu sepi. Jalanan tak banyak yang melalui. Sekitar 500 meter berjalan, ibu bertemu pekerja kelapa sawit. Ibu minta tolong. Ibu bilang, tolong kakiku luka dari sungai. Mengerti saja orang-orang di situ. Pakai mobil pengangkut sawit, ibu dibawa pulang ke rumah," ujarnya.
Diakui Nurhayah, sungai tempatnya memancing memang dihuni banyak buaya. Bahkan, sehari sebelumnya ia sudah melihat buaya di seberang tempatnya biasa memancing. Buaya tersebut sedang berjemur.
Baca: Korban Serangan Buaya Ditemukan 500 Meter dari Lokasi Hilang ...
"Ada di seberang sungai. Diam saja, berjemur. Tidak mengganggu. Lagi pula, tempat ibu mancing di atas tebing. Tingginya empat meter dari sungai. Jadi ibu pikir tidak masalah. Nggak menyangka juga tiba-tiba tercebur," kata Nurhayah.
Dari rumah, oleh tetangga sekitar, Nurhayah dibawa lagi ke Klinik Pertamina di Sangkima. Lukanya dibersihkan dan dijahit oleh perawat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/nurhayah-korban-buaya-sangatta_20150922_142406.jpg)