Sabtu, 11 April 2026

Berita Eksklusif

Sangasanga, Kota yang pernah Jaya dengan Batu Bara dan Kini Terlupakan

Kota bersejarah Sangasanga kini mulai terlupakan. Dari kota padat dan sibuk, menjadi sepi aktivitas.

TRIBUN KALTIM/BUDHI HARTONO
Conveyor CV Gudang Hitam Prima 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGASANGA - Kota bersejarah Sangasanga kini mulai terlupakan. Dari kota padat dan sibuk, menjadi sepi aktivitas.

Aneka karyawan perusahaan tambang batu bara yang semula ramai, sudah beberapa waktu ke belakang sepi, ibarat ditinggal pergi, eksodus. Masa jaya Sangasanga sebagai daerah industri batu bara berlangsung antara tahun 2004 sampai 2010.

Saat itu, industri batu bara meledak, booming, sehingga para pekerja di sektor perikanan seperti nelayan meninggalkan pekerjaannya, hijrah ke perusahaan pertambangan batu bara. Alasan beralih bekerja di perusahaan tambang, karena penghasilan nelayan sangat minim.

"Lumayan besar lah," tutur Masrani, seorang warga Sangasanga saat ditemui Tribun Kaltim mengenang saat ia masih bekerja pada satu perusahaan batu bara.

Baca: Pemprov Kaltim Sediakan Lahan di Pendingin untuk Pangkalan Maritim

Situasi nyaman tidak bertahan lama. Tahun 2011, menjadi puncak kekecewaan para nelayan. Berharap bisa memperbaiki perekonomiannya, justru bekerja di perusahaan tambang, perlahan tapi pasti, hidup makin terpuruk.

Dampaknya, sebagian besar karyawan perusahaan tambang terkena PHK (pemutusan hubungan kerja).Sementara, bantuan dari pemerintah untuk menunjang profesinya sebagai nelayan seperti alat tangkap kurang mendapatkan perhatian dan pembinaan.

Dengan alasan itu, ia memilih banting setir sebagai pekerja tambang. Masrani kini menempati bangunan rumah permanen berukuran sekitar 8 x 10 meter. Bangunan berwarna putih berdiri kokoh di depan bangunan rumah itu bertuliskan "Kelompok Nelayan Tangkap Sari Jaya".

Rumah itu digunakan Kelompok Nelayan Tangkap Sari Jaya. Kondisi di dalam rumah itu, masih beralaskan semen. Hanya Masrani dan Istrinya yang menempati rumah itu.

Masrani kini kembali menjadi nelayan. Setelah sempat beralih profesi dari nelayan ke pekerja tambang, dan kembali lagi menjadi nelayan. Ia pun tenaga harian lepas di perusahaan tambang bagian pengeboran.Ia sebagai ketua kelompok nelayan Tangkap Sari Jaya di Kelurahan Sari Jaya, Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Sangasanga.

Baca: Peringatan Merah Putih Sangasanga, Pelajar Diliburkan

"Ya kalau tidak kerja, bagaimana mau nyambung hidup. Cari ikan dapatnya pasti kurang. Lebih baik sambil kerja di tempat lain," kata Masrani.

Alat tangkap yang dibutuhkan, seperti jaring, mesin dan perahu ukuran besar yang menghasilkan jumlah tangkapan yang besar. Dalam setap hari, nelayan pergi mencari ikan hanya bisa mendapatkan maksimal 2 kilogram ikan.

"Bahkan bisa tidak dapat sama sekali," kata Masrani yang menyebutkan dalam kelompoknya terdapat 10 anggota nelayan.

Kebutuhan para nelayan itu, lanjut dia, pernah mengajukan proposal melalui kelurahan dan kecamatan agar ditindaklanjuti Pemkab Kutai Kartanegara. Proposal bantuan itu, membutuhkan berupa perahu yang lebih besar, mesin dan jaring.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved