Kolom Rehat

Resolusi Jihad Kakek Gus Dur

Saat itu tidak ada pelajaran bela negara boleh jadi karena memang tidak mendesak, mengingat negara kita tidak sedang berperang dan juga tidak dalam

TRIBUN KALTIM
Arif Er Rachman 

oleh: ARIF ER RACHMAN

KALAU santri artinya adalah orang yang belajar di pesantren, berarti saya adalah santri. Dan karena itu, saya ikut merayakan Hari Santri Nasional, yang diresmikan dan ditetapkan Presiden Jokowi setiap 22 Oktober mulai tahun ini, dengan membuat tulisan ini.

Soal saya sebagai santri itu sebenarnya cerita lama, lebih dari 30 tahun lalu. Saat itu sepulang sekolah resmi, saya melanjutkan 'sekolah Arab' -- begitu sebutannya dulu --di Pesantren Asy- Syifa yang saat itu baru didirikan dengan bangunan hanya terbuat dari kayu di Sepakat Laut, Kampung Baru, Balikpapan Barat.

Mulai kelas IV SD hingga kelas II SMP saya mempelajari semua yang diajarkan, mulai dari Tauhid hingga Tajwid, dari Fiqh hingga Tarikh, dari Nahwu dan Sharaf hingga Muhadhoroh, berpidato dengan bahasa Arab di depan orang banyak setiap Sabtu.

Karena rumah saya hanya sepelemparan batu dari situ, hampir tiap malam saya juga belajar Tafsir (kitab kuning) dan Hadits di langgar pesantren, dan pada malam-malam tertentu ikut menghadiri acara Maulid Habsyi di beberapa tempat hingga larut malam.

Saya berhenti beberapa tahun sebelum Asy-Syifa diboyong ke tempat baru dengan gedung permanen di Jl Soekarno- Hatta Km 4,5, Batu Ampar, Balikpapan Utara.

Beberapa tahun kemudian -- saat saya sudah tinggal di Surabaya -- saya mendengar ada perselisihan terkait kepengurusan pesantren itu yang berujung pada keputusan Guru Fadhli -- pendiri Asy-Syifa yang juga guru idola saya -- mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Sabulus Salam yang berlokasi tak jauh dari Ponpes Asy-Syifa saat ini.

Banyak lagi yang saya pelajari di pesantren kenangan itu selain sejumlah mata pelajaran yang saya sebutkan sebelumnya.

Tapi seingat saya, kami tidak pernah mendapat pelajaran Bela Negara seperti yang saat ini digaungkan dan diprogramkan Pemerintahan Jokowi, khususnya oleh Kementerian Pertahanan.

Hal terdekat dengan persoalan bela negara adalah saat kami diminta menulis Hubbul Wathoni Minal Iman (Mencintai Tanah Air adalah Bagian dari Iman) dalam pelajaran Khat (menulis indah/kaligrafi huruf Arab).

Saat itu tidak ada pelajaran bela negara boleh jadi karena memang tidak mendesak, mengingat negara kita tidak sedang berperang dan juga tidak dalam keadaan terancam.

Ini tentu saja sangat berbeda dengan keadaan 70 tahun lalu saat para santri bukan saja belajar bela negara tapi langsung terlibat aktif dalam mengusir penjajah saat Belanda dan sekutunya masih belum ikhlas melepaskan Indonesia.

Ketika itu, saat Kemerdekaan Indonesia bahkan belum seumur jagung, atas nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Inggris menduduki Jakarta.

Pertengahan Oktober, pasukan Jepang merebut kembali beberapa kota di Jawa dan menyerahkannya kepada Inggris. Bandung dan Semarang diduduki Inggris setelah menjadi lautan api. Demikian pula di Surabaya, Belanda masuk dengan membonceng tentara Inggris.

Pemerintah Republik Indonesia masih menahan diri untuk melakukan perlawanan dan mengharapkan adanya penyelesaian secara diplomatik. Tapi situasi makin genting. Soekarno, Hatta, dan Panglima Besar Jenderal Soedirman pun melakukan istifta' (permohonan pemecahan masalah yang pelik) kepada Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh kultural yang mempunyai pengaruh besar.

Sebelum adanya istifta' dari tiga tokoh kemerdekaan itu, Kyai Hasyim telah mengeluarkan Fatwa Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan kepada para santrinya.

Diperkuat adanya istisfa' tersebut, pada 21 Oktober 1945, para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di kantor ANO (Anshor Nahdlatul Oelama) di Jalan Bubutan, Surabaya.

Setelah rapat darurat sehari-semalam, maka pada 22 Oktober, KH Hasyim As'ary mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang kemudian kita kenal dengan istilah “Resolusi Jihad”.

Resolusi itu menggerakkan para santri dan masyarakat umum untuk berjuang bahu-membahu melawan pasukan kolonial, yang puncaknya pada kemenangan Indonesia dalam perang besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Dari sejarah itu terlihat bahwa santri memang berperan besar dalam masa revolusi saat Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Seiring waktu, jaringan santri telah terbukti konsisten menjaga perdamaian dan para kyainya sangat sadar pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama.

Para kiai dan santri selalu berada di garda depan untuk mengawal NKRI, memperjuangkan Pancasila.

Karena itulah, Presiden Jokowi menetapkan adanya Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, tanggal ketika KH Hasyim Asy'ari -- yang kita tahu mempunyai cucu yang kemudian menjadi salah satu presiden hebat negeri ini, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) -- mendeklarasikan Resolusi Jihad.

Dan karena itu pula, saya merasa bangga setidaknya pernah menjadi santri. (*)

***

Follow  @tribunkaltim Tonton Video Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

Maraknya Fenomena Sound Horeg

 
© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved