Risalah
Pria Ini Gagas Meta Rubaiyat: Menghafal Al-Quran Tanpa Menghafal
Ia pun menjelaskan empat kunci tahfizh Malaikat Jibril 'Alaihissalaam, sebagaimana disampaikan Allah dalam Surah Al-Qiyamah ayat 16-19.
TRIBUNKALTIM.CO - Ingin menghafal ayat Al-Quran tapi tak kunjung hafal, inilah problem yang dihadapi banyak kalangan Muslim. Namun dengan niat yang kuat, usaha yang gigih, dan metode yang tepat, proses menghafal ayat menjadi lebih mudah.
Ustadz Hamim Thohari, B.IRK, seorang da'i di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, telah mengembangkan metode menghafal Al-Quran secara efektif. Ia merajut empat langkah yang dikatakannya bisa membantu untuk menghafal tanpa menghafal.
Ustadz Hamim menamakannya Metode Tahfizh (Meta) Rubaiyat, karena menekankan empat langkah dalam proses Tahfizhul Quran.
Keempat langkah tersebut adalah, pertama, tartil, yaitu membaca dengan baik dan benar ayat-ayat yang sedang dihafal sesuia kaidah tajwid. Dengan tartil, santri penghafal memiliki bacaan yang berstandar dan berkualitas.
Kedua, tafhim, yaitu upaya untuk memahami makna ayat-ayat yang dihafal. Dengan tafhim, setiap ayat yang dihafal dapat dipahami maknanya dan mudah dihafalkannya.
"Ketiga adalah tikrar. Yaitu membaca secara berulang-ulang ayat-ayat yang sedang dalam proses dihafal. Dengan tikrar, hafalan tidak bertumpu pada daya ingatan otak, melainkan pada bacaan berulangi-ulang. Atau diistilahkan hafal Al-Quran tanpa menghafal," kata Hamim.
(Baca juga: Inilah 10 Sifat Istri yang Mendatangkan Rezeki bagi Sang Suami)
Dan keempat adalah muraja'ah, yaitu pengulangan kembali seluruh materi yang telah dihafal. Dengan muraja'ah, ayat-ayat yang sudah dihafal tidak mudah hilang, bahkan semakin melekat di hati dan lisan.
Hamim menegaskan, sebelum menghafal ayat Al-Quran, maka setiap Muslim harus memperbaiki kualitas bacaan. Jika tidak dilakukan, maka mereka bukan menghafalkan ayat secara benar melainkan menghafalkan kesalahan.
Agar Al-Quran dibaca dengan tartil, yaitu baik dan benar sesuai kaidah tajwid, maka perlu adanya tahsinu-t tilawah (perbaikan bacaan) dengan salah satu dari empat cara.
Pertama, model talqin (pendiktean). Polanya, guru membaca dan santri menirukan bacaan gurunya. Kedua, model 'ardh (unjuk bacaan). Polanya santri membaca di hadapan gurunya dan dikoreksi kesalahannya.
Ketiga, model simak (mendengar langsung). santri hanya mendengar bacaan gurunya secara langsung. Dan keempat, model simak tidak langsung. Santri mendengar bacaan qari' melalui rekaman. Ini cara terakhir ketika tidak ada guru tahsin.

Hamim menjelaskan, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hijr 9 bahwa Allah telah menurunkan Al-Quran dan Allah juga yang akan memeliharanya. Dan satu di antara bentuk pemeliharaan Allah adalah dengan banyaknya tumbuh para penghafal Al-Quran sepanjang zaman. Dengan peran mereka, kesalahan sekecil apapun akan terkoreksi.
"Makna hifzhul Quran adalah menyimpan lafazh Al-Quran dan mengokohkannya dalam hati, serta memantapkan pengucapannya di bibir dengan pertolongan ALLAH, melalui bacaan tartil secara berulang-ulang sambil tadabbur maknanya dan mengamalkan segala tuntunan dan ajarannya," kata Hamim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ustadz-hamim-thohari-birk_20151120_190245.jpg)