Salam Tribun

Air Mata DBD

Apa tanda-tanda demam bedarah dengue (DBS)paling parah? Bila demam itu berubah menjadi air mata kesedihan, saat nyawa korban tak tertolong lagi.

drpd surabaya

HATI terenyuh dan menangis itu manusiawi. Kondisi inilah yang ditampilkan oleh Walikota Balikpapan H. Rizal Effendi di depan Rapat Koordinasi Penanggulangan DBD di kantor Pemkot Balikpapan, Selasa (5/1). Rizal mengaku sedih hatinya, karena ada dua bocah warga Balikpapan terenggut nyawanya oleh keganasan deman berdarah alias dengue (DBD).

Sebelum Rizal menangis, kedua orang tua si bocah itu pasti sudah terkuras airmatanya. Mereka telah kehilangan anak-anaknya yang disayanginya. Itulah gelaja alami DBD pada tingkat paling akhir. Dimana demam berubah menjadi air mata. Tanda sebuah kedukaan mendalam.

Mereka adalah korban-korban keganasan penyakit demam berdarah yang setiap tahun selalu saja muncul di wilayah ini, bahkan di seluruh Indonesia.

Dengue sampai saat ini masih menjadi hantu gentayangan yang setiap saat mengincar warga Indonesia, termasuk Kalimantan Timur. Berdasarkan data kesehatan, kasus DBD di Kaltim meningkat dari tahun ke tahun.
Tercatat (2015) terjadi 5.594 kasus --catatan beberapa kabupaten/kota belum-- menyerahkan data kasus DBD Desember. Meningkat dibanding tahun 2014 sebanyak 4.797 kasus.

Pada periode Januari-September 2015 saja, Insident Rate (IR) DBD Kaltim berada di urutan kedua nasional, setelah Bali. Bahkan Juli 2015, Kaltim pernah Nomor 1 secara nasional.

Menyatakan kejadian luar biasa (KLB) DBD bukan dilihat dari jumlah kasus penyebaran penyakit, tetapi IR-nya. IR merupakan standar maksimal jumlah penderita DBD di daerah yang ditetapkan secara nasional. IR diperoleh dari jumlah kasus dibagi jumlah penduduk suatu daerah, dan dikali dengan 100.000 penduduk.

Kementerian Kesehatan menetapkan jumlah penderita DBD maksimal DBD di suatu daerah hanya 51 orang. Jika dilihat dari angka IR, DBD di Kaltim lebih tiga kali lipat dari ambang maksimal yang ditetapkan secara nasional, yakni 51.

Secara teori ilmu kedokteran kita sudah faham betul terhadap tingkah laku dan penyebaran penyakit mematikan ini. Setiap tahun pula pemerintahan di Indonesia sudah hafal lahir batin bahwa dengue setiap saat bisa merebak.

Persoalannya adalah setiap tahun pula korban mati akibat dengue selalu saja berjatuhan. Kaltim sebagai kawasan endemik berkait erat dengan ekologi atau lingkungan, yakni habitat perkembangbiakan dan nyamuk dewasa. Peningkatan kasus DBD di Kaltim 2015 tidak mengherankan, mengingat Kaltim tahun lalu dilanda kemarau panjang.

Kemarau panjang membuat masyarakat banyak menampung air. Terlebih di Balikpapan yang memang sempat dilanda krisis air bersih berkepanjangan. Celakanya, penampungan itu tidak ditutup, dan menjadi lokasi perkembangbiakan yang sempurna bagi nyamuk saat musim hujan.

Pemerintah semestinya bisa menetapkan penularan DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB), mengingat DBD merupakan penyakit punya potensi penyebaran dan membahayakan. Sama dengan malaria atau keracunan, meski korbannya hanya satu meninggal, sudah harus ditetapkan sebagai KLB.

Kita semua sedih menghadapi persoalan ini, kita bisa menangis tetapi hari berikutnya kita menangis kembali karena memang negeri ini belum mempunyai sistem penanggulangan DBD secara tuntas. Oleh karenanya DBD adalah common enemy, musuh bersama yang harus dituntaskan dari atas ke bawah.

Disisi lain, para pemangku kebijaksanaan seharusnya mengubah tangisannya menjadi kemanfaatan bagi warga khususnya penderita DBD. Perintahkan kepada seluruh rumah sakit di wilayah ini menerima pasien DBD sebagai kasus emergensi. Hindarkan semua birokrasi rumah sakit, BPJS atau sejenisnya yang berbelit-belit, demi satu nyawa.

Ingat bahwa DBD itu bukan hanya mengancam rakyat kecil atau masyarakat biasa, dia juga bisa mengenai siapa saja termasuk para pejabat kita. Mari kita atasi secara bersama-sama, jangan biarkah satu nyawa pun terenggut oleh ganasnya nyamuk demam berdarah. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved