Selasa, 19 Mei 2026

OPINI

Refleksi 2025: Apa yang Mesti Dilakukan di Tahun 2026?

Program apa yang sudah berhasil dilaksanakan, dan apa yang belum dilaksanakan? Bagaimana capaian kinerjanya? Hambatan-hambatan apa yang dihadapi?

Tayang:
Editor: Sumarsono
HO
DR Moh. Jauhar Efendi,Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. 

Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, MSi, CH.Ps *)

KAMIS (1/1), kita sudah memasuki Tahun Baru 2026. Seringkali kita merenung (introspeksi diri) tentang perjalanan apa yang telah kita lalui.

Begitu juga bagi Pemerintah dalam berbagai tingkatan selalu melakukan evaluasi.

Program apa yang sudah berhasil dilaksanakan, dan apa yang belum dilaksanakan?

Bagaimana capaian kinerjanya? Hambatan-hambatan apa yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasi hambatan tersebut?

Seringkali evaluasi dimaksudkan untuk menilai dan mengukur kualitas, efektivitas dan efesiensi suatu program, proyek atau kegiatan.

Pandangan tersebut memang tidak salah. Dengan cara melakukan evaluasi, Pemerintah dapat menentukan capaian tujuan dan sasaran.

Pemerintah juga dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. Selain itu, Pemerintah juga dapat meningkatkan kualitas dan kinerja, serta menginformasikan keputusan dan perencanaan strategis di masa-masa yang akan datang.

Pemerintah tentu tidak boleh bicara program atau kegiatan hanya sampai pada tahap hasil atau output.

Sebagaimana telah kita ketahui, yang dimaksud dengan output adalah hasil langsung dari suatu kegiatatan atau proyek, seperti jumlah produk yang dihasilkan, jumlah orang yang dilatih, atau jumlah layanan yang diberikan.

Baca juga: Libur Tahun Baru 2026, Wisata Pemandian Air Panas Desa Batu Lepoq Kutim Dipadati Pengunjung

Pada kesempatan ini penulis mencoba memberikan contoh sederhana, misalnya tentang kegiatan ”penanaman 1.000 pohon penghijauan di kawasan polder”.

Kalau kita bicara hasil atau output, maka ketika ada program atau kegiatan penghijauan, misalnya menanam 1.000 pohon di kawasan polder, maka usai ditanam 1.000 pohon pada kawasan dimaksud, maka hasil atau outputnya bisa mendapatkan nilai 100 persen.

Bukti outputnya adalah tertanamnya 1.000 pohon.

Tapi bagaimana jumlah pohon yang hidup dan tumbuh dengan baik dalam jangka waktu 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun dan seterusnya?

Pertanyaan berikutnya masih dari sisi output, apakah kawasan polder yang ditanami pohon menjadi lebih hijau dan asri?  

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved