Dua Bulan Jadi Pj Walikota, Ini yang Masih Mengganjal di Benak Meiliana
Dua bulan adalah waktu yang singkat untuk sebuah jabatan. Sulit melakukan sesuatu yang berarti. Tapi tidak bagi Meiliana.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dua bulan adalah waktu yang singkat untuk sebuah jabatan. Sulit melakukan sesuatu yang berarti. Terlebih dengan kompleksitas masalah di kota Samarinda yang kemarin genap berusia 348 tahun dan 56 tahun untuk Pemkot. Tetapi tidak bagi Meiliana, Pj Walikota Samarinda.
Saya tiba di ruang pertemuan Pj Walikota Samarinda pukul 07.05, Rabu (20/1/2016). Di sana sudah ada beberapa kawan dari media cetak dan elektronik. Terlihat Asisten III Setkot Ridwan Tassa, juga Kepala Bagian Humas Masrullah bersama stafnya. Beberapa menit kemudian datang Pemred Kaltim Post Rizal Juraid, dan Kepala Pemberitaan RRI Samarinda Buang Supeno
Tak biasanya wartawan datang sepagi ini di Balaikota. Mereka sengaja memenuhi undangan "Coffe Morning Pimpinan Redaksi Media Cetak/Elektronik bersama Pj Walikota." Saya mewakili Pemred Domu D Ambarita yang sedang berlibur ke Thailand.
Pj Walikota Samarinda Meiliana meninjau proyek pembangunan Bandara Samarinda Baru di Sungai Siring, 35 kilometer dari pusat kota Samarinda.
Layaknya acara-acara coffe morning, kami mendengarkan uraian Pj Walikota sambil nyeruput kopi ditemani lumpia panas. Gaya komunikasi Mei -- sapaan akrab Meiliana -- yang luwes dan terbuka terhadap awak media, membuat pertemuan berlangsung akrab. Berulangkali terdengar tawa lepas di antara kami. Ya, sudah bertahun-tahun tidak muncul keakraban semacam ini, dalam coffe morning di Balaikota.
Mei dilantik Gubernur Awang Faroek pada 24 Oktober 2015. Apa yang sudah dilakukannnya dalam waktu sesingkat itu? "Biarlah masyarakat dan kawan media yang menilai. Yang pasti saya juga akan melaporkan tugas yang telah saya jalankan kepada gubernur, dengan membawa dua bendel kliping koran," jelasnya.
Sedikit banyak guntingan-guntingan koran itu bisa menjelaskan sepak terjangnya selama memimpin kota ini, sejak hari pertama. Sehari setelah dilantik ia langsung sidak ke sejumlah SKPD. Ia kecewa mendapati para pegawai negeri yang tak maksimal memberi pelayanan kepada masyarakat.
Esoknya ia terbang ke Jakarta menerima penghargaan untuk pemkot. Hanya semalam. Ia segera kembali dan langsung bergerak ke lubang bekas galian tambang di Sungai Kunjang yang menewaskan seorang bocah, Aprilia Wulandari. Sejumlah baju lapangan telah ia siapkan di dalam mobil.
Tak cuma meninjau, Mei juga memerintahkan lubang itu diurug. Dinamisator Jatam Kaltim Merah Johansyah mengapresiasi langkahnya yang cepat. Sebuah langkah besar untuk seorang Pj Walikota, yang itu bahkan tidak pernah dilakukan oleh walikota terdahulu. Bertahun-tahun keluarga korban tambang mengeluh, berteriak dan mengharapkan respon nyata dari pemda, tetapi seperti membentur dinding tebal nan kokoh.
Baca: Meiliana Sebut Tak Peduli Siapa Pun Pemilik Tambang
"Kata kuncinya adalah komunikasi dan niatan yang tulus. Dengan komunikasi yang baik saya pikir tak ada masalah yang tak bisa kita atasi. Kija jalin komunikasi dengan bawahan, dengan gubernur, dewan, pejabat di provinsi bahkan pejabat di instansi vertikal, dan alhamdulilah mereka membantu," kata Mei, Rabu.
Tapi satu hal yang masih mengganjal pikirannya. Mei ingin kota ini memiliki sebuah museum kota, seperti di Belanda dan kota-kota lainnya di mancanegara. Sayang sekali waktunya terlalu singkat untuk bisa mewujudkan gagasan itu.
Baca: Oppie Andaresta Merasa Keren Ajak Anak Berwisata ke Museum
Mei menyadarkan kita semua bahwa kota yang saban tahun kita peringati hari jadinya, termasuk oleh para pelajar dengan upacara di sekolah-sekolah, terus beranjak tua. Tapi tahukah kita apa yang dilakukan daeng Mangkona pada 348 tahun lalu? Tahukah kita siapa walikota pertama, kedua dan seterusnya, serta apa saja yang telah diperbuatnya?

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/bentang-tengah-flyover_20151203_122444.jpg)