Salam Tribun
Tanah Harapan
Sebuah organisasi yang ajarannya dianggap sesat menyebabkan ratusan warga harus terusir dari tanah harapan.
MASYARAKAT memberi stigma. Sebuah organisasi yang ajarannya dianggap sesat menyebabkan ratusan warga yang bermukim di Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Bulungan harus terusir dari tanah harapan.
Pemerintah setempat pun bereaksi cepat. Bersama sejumlah aparat keamanan, warga yang tergabung dalam organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dipulangkan ke daerah asal.
Di wilayah Kaltim dan Kaltara, terdata penyebaran eks anggota Gafatar ada di Samarinda, Bulungan, Kukar, Balikpapan, Kubar, Berau, Tarakan, dan Penajam Paser Utara.
Untungnya, proses evakuasi berjalan lancar tanpa ribut-ribut dan tindakan anarkis. Beberapa kisah mengharukan terkuak saat ratusan warga dari Samarinda, Kukar, dan Bulungan harus pulang ke kampung halaman.
Warga eks Gafatar, begitu label yang diberikan kepada mereka, harus menjual barang-barang untuk sangu pulang ke kampung halamannya. Aset yang dimiliki selama ini di Tanah Merah, Samarinda tak mendapat ganti rugi dari pemerintah. Hasil berjibaku dengan tanah selama bertahun-tahun hingga memberi hasil bumi meruap begitu saja.

Tribunkaltim/Christoper Desmawangga -- Warga eks Gafatar menjual barang-barang pribadinya untuk biaya pulang ke kampung halaman dari Samarinda
Baca: Untuk Sangu Pulang, Eks Gafatar Lelang Barang Kebutuhan Rumah Tangga
Segendang sepenarian, keringat yang menetes dari tenaga eks Gafatar dari Kukar dan Bulungan yang terbuang seperti menjadi hampa. Tak heran banyak warga yang pilu dan sebenarnya tak rela tapi harus pasrah dipulangkan.
Bahkan, ketika mereka sudah tiba di kampung halaman, mereka bingung tak tahu apa yang harus dikerjakan. Bagaimana mencari mata pencaharian untuk menghidupi keluarga, ditambah lagi label sebagai eks Gafatar membuat mereka akan menjadi sasaran penghakiman massa.
Memang perjalanan kelam mewarnai organisasi ini. Berdiri sebagai organisasi massa (ormas) pada 21 Januari 2012, ormas ini diprakarsai 42 orang.
Sejatinya, organisasi ini mengusung mimpi kebangkitan kejayaan Nusantara dengan mengeksploitasi masa keemasan kerajaan Majapahit dan Demak. Ideologi yang dipegang tetaplah Pancasila. Kejayaan itu bisa diperoleh dengan cara memperjuangkan kedaulatan pangan.
Dalam perjalanannya, ormas ini mewujudkan idealisme dengan melakoni aksi sosial, seperti kerja bakti massal, donor darah, bahkan ikut melakukan fogging ke daerah-daerah.
Aksi ini berhasil merebut hati banyak instansi. Mereka bisa menjalin kerja sama dengan Pemda hingga TNI/Polri.
Baca: Nasib Warga Eks Gafatar setelah Dipulangkan, Belum Tahu Apa yang Dikerjakan di Kampung
Banyak bukti, mereka membangun jalan hingga jembatan bersama TNI. Belakangan, mereka mulai serius mengembangkan ketahanan pangan sebagai upaya mewujudkan era kejayaan nusantara lewat pertanian. Idealisme mereka jelas, aksi mereka jelas. Kerja sosial berlandaskan Pancasila.
Namun, beberapa kasus membuat riak gelombang yang tak bisa dicegah. Di Aceh, Gafatar ditentang habis karena diduga mempraktikkan kehidupan Islam yang tidak islami. Gafatar langsung dibekukan di daerah itu. Menyusul kemudian Gafatar di daerah lain, seperti di beberapa daerah di Jawa hingga Sulawesi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/warga-eks-gafatar6_20160127_162612.jpg)