Salam Tribun

Tanah Harapan

Sebuah organisasi yang ajarannya dianggap sesat menyebabkan ratusan warga harus terusir dari tanah harapan.

TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Petugas keamanan membantu proses evakuasi warga eks Gafatar dari Desa Karya Jaya, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (26/1/2016). 

Sebuah nama, Ahmad Mosaddeq, kendati sudah dibantah sana-sini oleh kubu mantan Gafatar, disebut-sebut sebagai satu di antara pemrakarsa itu. Moshaddeq tercoreng setelah mengumumkan sebagai nabi baru. Ia dipenjara akibat pengakuannya itu.

Didera persoalan ini, Gafatar kemudian bubar resmi pertengahan Agustus 2015.

Kenyataan berkata lain, Gafatar mulai ditemukan di berbagai daerah. Setelah bubar, banyak eks Gafatar hidup berkelompok, membuka lahan pertanian, dan bisa mandiri hidup dengan bertani. Samboja di Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu bukti.


TribunKaltim/Cornel Dimas Satrio -- Sebanyak 322 warga eks Gafatar yang berada di Desa Karya Jaya, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, dipulangkan ke daerah asalnya melalui Pelabuhan Semayang Balikpapan

Dengan dua hektar tanah, mereka mampu menghidupi hingga 239 jiwa di sana. Mereka bangun 15 rumah, dapur umum, ladang pertanian, dan padi. Juga menggarap 7 hektar lain milik orang lain dengan cara bagi hasil.

Jalil, Ketua kelompok Samboja, mengungkap, tidak ada ritual agama menyimpang di sana. Mereka murni bertani. Soal agama dan kepercayaan adalah urusan pribadi masing-masing.

Tapi, karena masa lalu, mereka tetap terusir. Terlebih belakangan ini banyak kasus orang hilang mencuat karena diduga ikut Gafatar. Alhasil, hidup warga eks Gafatar pun kembali terusik.

Jalil mengatakan, di Sulawesi Selatan, ada 3.000 orang eks Gafatar. Ribuan orang itu mendambakan kehidupan yang lebih baik serta mandiri, juga berkeadilan.

Mereka ini merupakan keluarga yang merasa terpinggir dari keluarganya di tanah kelahiran. Karenanya, dengan kehidupan yang dimulai dengan hidup baru di tempat baru bisa mewujudkan asa.


TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN -- Aparat kepolisian membantu proses evakuasi warga eks Gafatar dari Desa Karya Jaya, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, Selasa (26/1/2016).

Samboja, Tanah Merah, dan Desa Pejalin (Kabupaten Bulungan) adalah tanah harapan mereka.

Beberapa warga yang 'terusir' sempat mengungkapkan keresahannya. Mereka hanya eks Gafatar, bagaimana kalau di daerah asalnya orang juga tidak mau menerima.

Seorang lelaki paruh baya mengungkapkan, sebagai warga negara Indonesia, mereka juga punya hak untuk mendapat tempat tinggal. Jika bangsa ini tidak mau menerima, adakah bangsa lainnya yang mau menerima?

Baca: Eks Gafatar: Jika Bangsa Ini Tidak Mau Terima Kami, Adakah Bangsa Lain yang Menerima?

Ia meyakinkan, bahwa mereka, warga eks Gafatar hanya ingin mencari keamanan, membantu negara dalam ketahanan pangan, tapi kenapa keberadaan mereka tidak diterima?

Soal keyakinan dan ideologi tampaknya tak menjadi penting lagi bagi mereka.

Satu-satunya hal yang mereka pikirkan hanya bagaimana bertahan hidup dari hempasan ekonomi yang begitu sulit di tanah asal menuju tanah harapan yang ternyata jauh dari harapan. (*)

Klik Saja dan Follow @tribunkaltim serta Tonton Video Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved