Salam Tribun

Haruskah Kaum Netizen Berwajah Garang?

Pada perkembangannya, gerakan netizen kian terorganisir. Dari sekadar forum diskusi seru-seruan, men-setting trending topic, hingga manuver sosial.

politicalblindspot.com
ILUSTRASI 

 

 Oleh: Kholish Chered

(kholish_tribunkaltim@yahoo.co.id / FB: kholish chered)

SEORANG jurnalis senior membagi hasil perenungannya dalam sebuah grup Whatsapp. Ia menyebut, saat ini telah terjadi perubahan signifikan dalam relasi antara media massa dengan publik.

Dulu, media seolah pihak yang bisa "berkhutbah" menyampaikan informasi dari tempat yang tinggi. Dan publik sebatas menanti, lalu memercayai, juga menjadikannya sebagai rujukan dalam bersikap, meski tak ada ruang feedback.

Namun sekarang, setiap warga seolah punya megaphone untuk bersuara lantang, tepatnya melalui social media. Netizen dengan mudahnya mengkritisi pemberitaan, buah karya jurnalisme. Bahkan informasi seringkali lebih cepat tampil melalui social media. Tak jarang ocehan di socmed dijadikan sebagai sumber berita media mainstream.

Pada perkembangannya, gerakan netizen kian terorganisir. Dari sekadar forum diskusi seru-seruan, men-setting trending topic, hingga menggulirkan manuver sosial politik. Termasuk dalam mewarnai ruang pemberitaan dengan komentar-komentar yang beragam warna, rasa, dan baunya.

Lihatlah bagian bawah berbagai situs berita. Setelah membaca utuh naskah jurnalistik, tampak pula kolom-kolom komentar alias ocehan netizen yang kerap menggelitik dan mengusik perasaan. Terutama terhadap berita yang bersifat problematik dan konfrontatif.

Lihat pula berbagai berita yang di-share di social media, terutama Facebook dan Twitter. Isu konfrontatif, terutama bekas-bekas kubuisasi Pilpres 2014, masih saja mengemuka. Kian tajam beritanya, kian banyak pula yang berkomentar.

Berkomentar atau memberi umpan balik terhadap produk jurnalistik merupakan hak setiap elemen publik. Dalam konteks kebebasan berpendapat, warga bisa menyampaikan gagasan, konsep, pemikian, kritik, maupun sikap secara jelas, terbuka, dan bertanggung jawab.

Namun sayangnya, berdasarkan situasi kekinian, setidaknya ada tiga pola umum perilaku netizen yang berpotensi membawa dampak negatif dan kontraproduktif.

Pertama, kebiasaan mencaci-maki orang yang berbeda pandangan. Debat di dunia maya seketika bisa berubah menjadi perang komentar ketika kalimat makian sarkastik mengalir panjang.

(Baca juga: Jangan Tunggu Serangan Mematikan Ini, Segera Periksakan Kesehatan Jantung Anda ke Ahlinya)

Perdebatan menjadi keras, namun melupakan substansinya. Natizen tampil begitu garang, tak tampak sikap toleran terhadap perbedaan. "Blaming game" alias pembusukan citra dan upaya sistematis memancing emosi dianggap merupakan hal yang wajar.

Kedua, fanatisme buta. Ada sebuah trend, komunitas netizen mendukung tokoh tertentu secara membabi buta plus menutup mata terhadap realita. Ketika mereka sudah nge-fans alias fanatik kepada seorang tokoh, mereka lantas melakukan pembelaan habis-habisan, apapun duduk persoalannya. "Right or wrong, he is my hero".

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved