Salam Tribun

Haruskah Kaum Netizen Berwajah Garang?

Pada perkembangannya, gerakan netizen kian terorganisir. Dari sekadar forum diskusi seru-seruan, men-setting trending topic, hingga manuver sosial.

politicalblindspot.com
ILUSTRASI 

Ketiga, asal dan latah bicara tanpa data. Masyarakat yang terdidik (well educated) bukanlah masyarakat yang latah dan gampang membebek. Mereka punya daya kritis sekaligus filter yang membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Yang utama, haruslah ada ilmu atau wawasan sebelum perkataan dan perbuatan.

Lantas, sehatkah fenomena seperti ini? Sebuah contoh aktual mengemuka, ketika beredar "panduan debat" kasus lahan RS Sumber Waras milik jaringan relawan socmed tokoh tertentu, beberapa hari lalu. Di sisi lain, caci maki bernuana SARA juga menukik tajam pada figur tertentu.

Belum lagi fenomena relawan social media "bayaran", yang siap memberikan layanan dukungan pencitraan massif yang positif, defensif, sekaligus offensif. Ditambah lagi maraknya buzzer, akun robot, hingga cyber army yang dikelola serius oleh organisasi sosial dan politik.

Tulisan singkat ini sebatas mengingatkan, bahwa ada yang perlu dibenahi dari gaya komunikasi netizen di republik ini. Dalam perspektif agama, manusia diperintahkan untuk memilih; berkata baik atau diam. Ketika harus bicara, ada kaidah berkata benar (qoulan sadiida) dan berkata dengan cara yang baik (qoulan ma'ruufa).

Dari sisi etika berbahasa, rasanya masih segar nasihat guru SD tentang pentingnya berbahasa Indonesia secara baik dan benar; baik caranya dan benar maknanya. Belum lagi bingkai regulasi tentang "hate speech" atau ujaran kebencian yang rawan menjerat netizen secara hukum.

Pada sisi lain, ketika publik mencintai seorang tokoh, ada kaidah emas yang perlu diingat; "teman yang baik adalah teman yang berkata benar kepadamu. Bukan yang selalu membenarkan perkataanmu".

Bagi netizen yang paham rahasia dunia maya, perdebatan panas mungkin disikapi sebatas lucu-lucuan dan obat anti-ngantuk. Tapi bila tak paham, bisa terhanyut dalam arus perdebatan panjang, bahkan bisa ketularan hobi mem-bully sana-sini.

Rasanya nasihat Imam Ahmad Radhiyallaahu Anhu masih sangat relevan di era komunikasi terbuka ala milenium ini. "Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan". Dus, semberi menulis komentar secara cerdas dan taktis, ingat juga jingle asyik sebuah iklan; "Jangan marah-marah, mari ramah-ramah". (*)

***

Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.

Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved