SALAM TRIBUN

Pascaminyak

Usianya baru 30 tahun. Semuda itu ia sudah mengambil banyak peran besar. Ia berada di balik keputusan berani yang diambil pemerintah Arab Saudi

DOK TRIBUNKALTIM

SALAM TRIBUN

Pascaminyak

Oleh ACHMAD BINTORO

Usianya baru 30 tahun. Semuda itu ia sudah mengambil banyak peran besar. Ia disebut-sebut berada di balik keputusan berani yang diambil pemerintah Arab Saudi, Senin (25/4/2016). Ia pula yang kemudian tampak lebih banyak meladeni para awak media (termasuk asing) dan menjawabnya dengan tangkas usai sidang dewan kabinet, yang menyetujui Visi Arab Saudi 2030.

Hari itu, dengan mengapit sang ayah, Raja Salman bin Abdul Aziz (81), bersama saudara sepupunya, Putra Mahkota Mohammed bin Neyef (56), Mohammed bin Salman mengumumkan visi pemerintah untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada minyak tahun 2020. Ya, empat tahun lagi!

"Kami bisa hidup tanpa minyak pada tahun 2020," tegas Mohammed Salman, Deputi Putra Mahkota, yang sering dijuluki "Mr Everithing."

Julukan itu awalnya hanyalah obrolan terbatas kalangan diplomat asing. Merujuk pada perannya yang sangat besar. Masih berusia 30 tahun, tapi perannya nyaris melampaui raja. Ia menduduki berbagai jabatan penting. Antara lain Wakil Perdana Menteri Kedua, Menteri Pertahanan, Ketua Mahkamah Kerajaan, hingga Penasihat Khusus Pelayan Dua Urusan Tanah Suci. Ia juga memimpin perusahaan minyak terbesar di Saudi, Aramco.

"Kami semua telah meningkatkan kecanduan minyak di Arab Saudi. Ini berbahaya dan menghambat pembangunan dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya dalam wawancara dengan televisi pemerintah Al-Arabiya.

Sebuah visi yang oleh banyak analis disebut sangat berani mengingat selama puluhan tahun struktur ekonomi Saudi ditopang oleh ekspor minyak. Hampir 80 persen pendapatan Arab Saudi berasal dari minyak. Kedua, negara ini tidak sedang alami krisis minyak. Cadangan minyaknya masih melimpah ruah. Dari enam ladang minyak besar miliknya, Ghawar Field merupakan ladang terbesar sejagad. Sekitar 75-83 miliar barel.

Tetapi, kini, minyak pula yang membuat para pemimpin kerajaan dari dinasti bin Saud ini pusing tujuh keliling. Anjlokmya harga berakibat turunnya pendapatan hingga 23 persen dibandingkan tahun lalu. Harga minyak mentah WTI anjlok dari tingkat tertinggi selama lima tahun sebesar US$125 (Rp 1,7 juta) per barel pada Maret 2012 menjadi US$42,6. Malah sempat menukik lebih dalam US$25,15 pada empat bulan lalu.

Tak terbendung lagi, defisit makin membengkak. Menjadi US$98 miliar atau Rp1.337 triliun tahun ini.

Visi 2030 disusun untuk membangkitkan ekonomi baru pascmigas. Keputusan ini diumumkan tidak lama setelah OPEC gagal sepakat untuk mengurangi produksi. Saudi dan Iran menolak menurunkan produksi karena negara-negara penghasil lain, non-OPEC seperti Amerika dan Rusia tidak melakukan hal yang sama. Mereka bertanya, "Kok hanya dan harus kami yang membatasi?"

Pengurangan produksi tadinya diharapkan akan dapat menaikkan harga, setidaknya di atas US$50. OPEC adalah kartel 13 negara di mana Arab Saudi merupakan produsen terbesar. Indonesia pernah menjadi anggota dan akhirnya keluar tahun 2008 karena menjadi net importer.

Mohammed Salman menyadari bahwa minyak tidak bisa diperbarui. Suatu saat pasti habis. Agaknya, anjloknya harga minyak dunia ini kemudian menyadarkan para pembesar Arab Saudi untuk segera mereformasi ekonominya. Langkah Saudi dinilai sejumlah analis sangat tepat.

Kita pernah melihat bagaimana sebelumnya, 16 tahun lalu, kesadaran yang sama untuk melepaskan diri dari minyak, juga muncul pada raja Dubai, Mohammed bin Rasyid Al-Maktoum. Hasilnya, kini Dubai menjadi incaran para pelancong kaya dunia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved