SALAM TRIBUN

Pascaminyak

Usianya baru 30 tahun. Semuda itu ia sudah mengambil banyak peran besar. Ia berada di balik keputusan berani yang diambil pemerintah Arab Saudi

DOK TRIBUNKALTIM

Bagaimana dengan Kaltim? Kaltim kini mengalami imbas yang sama akibat anjloknya harga kayu lapis dunia, kemudian batubara, dan kini minyak bumi. Bisakah Kaltim membangun tanpa lagi mengandalkan tambang dan migas?

Pertanyaan ini terdengar konyol. Tetapi, tengoklah histori ketergantungan kita selama ini terhadap sumberdaya alam. Kita pernah mengenal periode kayu pada tahun 70-an hingga 1990. Kita juga mengenal periode migas, menikmati bonanza minyak tahun 1980-2008. Dan kemudian bergeser ke periode batubara tahun 2008 hingga 2013.

Apa hasilnya? Di atas kertas, Kaltim memang pernah mencatat angka pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Beberapa tahun di atas rerata nasional. Geliat usaha dan industri pun tumbuh pesat. Ini terlihat dari tingginya angka PDRB (yang oleh sebagian orang disalahartikan sebagai besaran nilai uang Kaltim yang disetorkan ke pusat) dari tahun ke tahun. Meski sempat turun, tahun 2015 masih tinggi, Rp 564,7 triliun.

Di lapangan, pada kenyataannya, kita masih saja dihadapkan pada problem-problem mendasar. Apa lagi kalau bukan infrastuktur yang minim. Saat pulau lain sudah menikmati nyamannya berkendara di jalan tol, kita masih berkutat pada banyaknya ruas jalan yang tidak aman. Bicara kenyamanan, oh masih terlalu jauh. Listrik byar pet tak berkesudahan.

Bagaimana mau membanun smelter jika listrik tak tersedia? Bagaimana investor akan realisasikan rencananya jika infrastruktur masih ala kadarnya. Padahal, berharap ekonomi kembali tinggi, Kaltim tidak mungkin hanya mengandalkan ekspor dan konsumsi rumah tangga. Perlu investasi swasta dan pemerintah. Dan investasi yang paling tepat adalah membangun pabrik pengolahan (manufacturing) dan pemurnian (smelter).

Itulah PR-PR yang masih harus diselesaikan Kaltim. Kaltim sudah lebih dulu menyusun Visi Kaltim 2030, sebagai upaya melepaskan diri dari migas dan tambang. Saatnya rencana-rencana itu dituangkan dalam tindakan yang nyata dan terukur. Tak cukup hanya dengan mengoleksi berbagai macam piagam dan panji keberhasilan. Rakyat sudah terlalu lama menunggu!(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved