Milisi Abu Sayyaf
Siapa yang Membebaskan 10 WNI Sandera Abu Sayyaf? Ini Cerita dari Filipina Selatan
Dari 14 Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat jadi korban sandera kelompok Abu Sayyaf, masih ada 4 WNI yang belum pulang ke Tanah Air.
Penulis: Amalia Husnul A | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO , MANILA - Dari 14 Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat jadi korban sandera kelompok Abu Sayyaf, masih ada 4 WNI yang belum pulang ke Tanah Air.
Sepuluh WNI yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) tugboat Brahma 12 akhirnya dibebaskan Minggu (1/5/2016). Di Indonesia, pembebasan sandera menjadi klaim berbagai pihak yang konon berperan dalam upaya pembebasan tersebut.
Sementara, di Filipina sendiri kisruh dalam negeri negara ini tak kalah rumit. Setelah pembebasan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf, Pemerintah Daerah Sulu terus berupaya menemukan lokasi empat WNI yang masih disandera.
Empat WNI tersebut adalah ABK Christy yang diculik 15 April di dekat Pondo, Sibugal Setangkai, Tawi-tawi. Baik milter maupun pemerintah Filipina masih menutup informasi detil mengenai operasi penyelamatan yang akan dilakukan.
Namun, Senin (2/5/2016) waktu setempat, Gubernur Sulu, Abdusakur "Toto" Tan Jr mengatakan, pemerintah daerah Sulu telah meminta bantuan Moro National Liberation Front (MNLF) untuk menemukan para sandera.
BACA JUGA: Putra Amien Rais: Ada yang Ingin Manggung dalam Upaya Pembebasan Sandera
Termasuk untuk melakukan negosiasi pembebasan sandera tersebut.
Menurut Tan, MNLF telah setuju membantu mengatasi penculikan yang terjadi di provinsi tersebut.
Pembebasan 10 WNI yang jadi sandera disebutnya tak lepas dari operasi militer dan polisi di Sulu dan sinergi dengan negosiasi yang dilakukan Pemerintah Daerah Sulu dengan kelompok Abu Sayyaf.
Pejabat terkait di Filipina tidak secara langsung menyebutkan apakah uang tebusan yang diminta para pembajak dibayarkan atau tidak.
Pemerintah Filipina kembali menegaskan bahwa pemerintah Filipina tidak memiliki kebijakan membayar tebusan.

Gubernur Sulu, Abdusakur "Toto" Tan Jr. (Facebook/Pemerintah Provinsi Sulu)
Tan menambahkan MNLF melalui Ketuanya, Nur Misuari telah membantu proses negosiasi.
Ketua Dewan Komando Islam MNLF, Habib Mudjahab mengatakan sejak krisis sandera mencuat pada 26 Maret 2016 lalu, Misuari dan seluruh komandan MNLF telah mengupayakan pembebasan WNI.
Hasyim menambahkan negosiasi MNLF dengan Abu Sayyaf diadakan secara sembunyi-sembunyi. Militer dan Polisi Filipina membiarkan proses tersebut lantaran ini adalah peluang agar 10 WNI dapat bebas dengan selamat.
“Maas (panggilan Misuari) memimpin pembicaraan dengang anggota Abu Sayyaf," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/10-wni-usai-dibebaskan_20160503_133933.jpg)