SALAM TRIBUN
Belajar Mendengar
Gubernur mungkin lupa bahwa kali ini, ia hanya perlu lebih banyak mendengar. Itu saja. Kurangi berbicara. Apalagi berjam-jam
Belajar Mendengar
Oleh ACHMAD BINTORO
Pagi itu saya sedang bersemangat. Mungkin ini pengaruh kafein dari green tea dan yerba mate yang sempat saya seruput di rumah.
Hujan deras dan banjir yang menyergap di sejumlah kawasan sedikit pun tak membuat surut langkah saya. Sepatu basah. Celana basah.
Itu sih biasa. Protes tidak mengubah keadaan. Lagi pula, di sejengkal lahan yang mana lagi sih di kota ini yang aman dari banjir? Kalau pun ada, mungkin Anda harus berdiam dulu beberapa puluh menit di rumah. Jalan yang akan Anda lewati jangan-jangan telah berubah menjadi sungai.
Pukul 07.55 saya tiba di pendopo Lamin Etam, rumah jabatan Gubernur Kaltim. Hujan deras masih mengguyur. Pendopo lengang. Tapi tuan rumah sudah tampak. Gubernur Awang Faroek duduk di meja bulat paling depan.
Turut meriung Sekprov Kaltim Rusmadi, dan sejumlah pejabat eselon dua. Ada sekitar 15 meja bulat bertaplak putih yang tersedia di ruang itu.
Di baris terdepan, ada sebuah meja panjang. Di sanalah gubernur, sekprov dan Ketua DPRD Kaltim M Syahrun nanti akan duduk. Dua layar besar terpasang di belakang mereka, ujung kiri dan kanan. Dengan bantuan slide proyektor itu, gubernur akan membacakan program dan apa saja capaian yang membuat pemprov bolak-balik dihajar penghargaan.
Jarak meja gubernur dengan deret meja bulat paling belakang lumayan jauh. Waduh, resmi banget kesannya!
Saya sempat membuka kembali pesan pendek yang saya terima. Ah, benar adanya. Undangan itu memang untuk coffee morning bersama gubernur. Bukan rapat SKPD. Selain puluhan kepala SKPD, hadir sekitar 21 anggota DPRD Kaltim. Termasuk sembilan orang anggota dewan yang turut dalam rombongan gubernur ke Rusia.
Oleh-oleh kunjungan dari Rusia memang menjadi salah satu daya tarik coffe morning kali ini. Saya pun begitu.
Sebelumnya, keberangkatan gubernur bersama anggota dewan dan bupati-bupati disebut-sebut untuk menunjukkan kompak dan kuatnya komitmen para pejabat daerah dalam mendukung investasi Rusia di Kaltim.
Apakah kunjungan itu kemudian mampu menepis keraguan Rusia dalam menanamkan modal besar besarnya, Rp 72 triliun?
Itu pulalah yang ingin saya dengar langsung dan lebih detil dari gubernur dan anggota dewan yang hadir. Sayang sekali, saya tidak bisa menangkap jawaban yang saya inginkan. Bahkan, pertanyaan pun tak sempat terlontar. Waktu yang ada lebih banyak dihabiskan untuk monolog.
Format kemarin jauh dari bayangan dan apa yang saya pahami kenapa coffee morning digelar. Betul ada tersedia kopi panas. Kita bisa menyeduhnya sendiri. Menikmati aroma dan rasanya yang khas. Kita juga bebas bersantap. Tinggal pilih, mau nasi kuning atau lontong sayur. Dua-duanya pun tak apa.
Gubernur mungkin lupa bahwa ini adalah coffee morning. Acara ini digelar -- sedianya dua-tiga bulan sekali -- untuk mengatasi kekakuan komunikasi antara dirinya dengan anggota dewan. Di negara-negara barat, tradisi ini sangat efektif sebagai pencair suasana (ice breaker) oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)