SALAM TRIBUN
Belajar Mendengar
Gubernur mungkin lupa bahwa kali ini, ia hanya perlu lebih banyak mendengar. Itu saja. Kurangi berbicara. Apalagi berjam-jam
Tentu suasana tidak harus secair layaknya di kedai kopi. Tetapi, tradisi ratusan tahun yang terjadi di kedai-kedai kopi itu kadang lebih efektif dibanding rapat-rapat formal yang cenderung satu arah dan penuh wejangan. Apalagi dalam dunia politik dan bisnis.
Dengan cara ini, peserta coffee morning akan mengalihkan kebiasannya, dari semula menyantap sendiri hidangannya menjadi bersama-sama. Duduk satu meja. Berkenalan. Ngobrol bareng. Membahas isu-isu strategis tanpa harus berkerut dahi. Jika obrolan bersambut dan cocok, tentu akan membuka jalan untuk pembicaraan yang lebih serius.
Gubernur mungkin lupa bahwa kali ini, ia hanya perlu lebih banyak mendengar. Itu saja. Kurangi berbicara. Apalagi berjam-jam dengan terus mengedepankan berbagai pencapaian program pembangunan.
Sekali-kali dengarlah apa yang disuarakan anggota dewan. Meski barangkali tidak sependapat. Atau suaranya terlalu parau. Tak pula akan menurunkan derajat kewibawaan seorang gubernur jika sekali- kali mau mendengar suara publik, lewat media.
Bisa berbicara tidaklah mudah. Tetapi, bisa dan mau mendengar sebenarnya jauh lebih sulit. Di coffee morning inilah kita dilatih untuk mendengar. Have coffee in the morning and I'll be happy today.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)