Senin, 27 April 2026

Penutupan Lokalisasi

Diklaim sebagai Koordinator, Pak Ogah Bisa Raup Rp 25 Juta Sebulan

Dikonfirmasi ulang apakah jawabannya itu mengisyaratkan akan dibukanya lagi lokalisasi dalam beberapa hari ke depan, Pak Ogah hanya menjawab ringan.

TRIBUN KALTIM/ANJAS PRATAMA
M Aini Uga di salah satu warung kopi kawasan Bayur, Rabu (1/5/2016). Ia mengakui adanya pungutan per bulan kepada para PSK dan pemilik wisma di lokalisasi tersebut. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA –Pak Ogah hampir dikenal oleh seluruh Pekerja Seks Komersial (PSK) di Lokalisasi Bayur. Ia diklaim sebagai koordinator seluruh wisma di Bayur.

Awalnya, tak ada PSK yang mau menunjukkan di mana Pak Ogah berada. Mereka hanya berujar ia biasa duduk dan bersantai di posko keamanan, tepat di pintu masuk Lokalisasi Bayur.

“Biasa di sana, Mas. Orangnya besar dan hitam. Tadi ada, tetapi sekarang saya tak lihat lagi,” ujar seorang PSK, Rabu (1/5/2016).

Siapakah Pak Ogah sebenarnya?

Berbadan gempal, kulit coklat, dan mengenakan pakaian batik kotak-kotak, demikian sosok M Aini Uga atau yang dikenal dengan Pak Ogah.

Ia pun mengiyakan adanya pungutan kepada para PSK serta pemilik wisma di Bayur tersebut.

“Iya benar. Uang itu untuk karyawan di sini per bulan. Ada sekitar 17 karyawan yang bekerja sama saya,” katanya.

Baca: PSK Asal Jember Ini Mengaku, Pelanggannya Dulu Kini Berstatus Suami

Banyaknya wisma serta para PSK di kawasan Bayur tersebut pun membuat Tribunkaltim.co penasaran berapa rupiah per bulan yang berhasil ia kumpulkan.

“Sebulan bisa Rp 23 hingga 25 juta. Tetapi semuanya langsung habis, untuk gaji karyawan di sini. Ada yang gajinya Rp 1 juta lebih, ada juga yang hanya Rp 1 juta. Mereka yang kerja ini kan juga harus dibayar. Ada yang bekerja sebagai pengawas, dan ada pula yang lainnya,” katanya.

Ditanyakan bagaimana langkah selanjutnya para PSK dan karyawan Pak Ogah usai adanya penutupan, ia berkata bahwa situasilah yang nanti akan menentukan apakah akan ditutup atau tidak kawasan lokalisasi tersebut.

“PSK banyak yang mengeluh ke saya. Mereka tak tahu kapan uang kompensasi itu akan dibayarkan. Memang disuruh membuat rekening BRI, tetapi kapan dibayarkan, semua tak tahu. Terkait apakah besok akan berhenti atau tidak, lihat kondisi. Siapa yang bisa menjamin ekonomi mereka setelahnya. Saya terserah saja. Jika mereka diangkut karena kembali lagi ke pekerjaan lama mereka (PSK) ya silakan saja. Namanya juga orang mencari makan. Saya masih coba komunikasikan sama pihak-pihak terkait,” katanya.

Dikonfirmasi ulang apakah jawabannya itu mengisyaratkan akan dibukanya lagi lokalisasi dalam beberapa hari ke depan, Pak Ogah hanya menjawab ringan.

“Terserah saja. Kita lihat situasi saja,” katanya.

Baca: FOTO - Suasana di Lokalisasi, Menunggu Kedatangan Menteri Sosial

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved