Salam Tribun
Puasa Belanja
Kita hanya akan menyaksikan parade pejabat turun sidak ke pasar-pasar atau supermarket. Diskusi sebentar lalu pulang.
Penulis: Syaiful Syafar |
Oleh: Syaiful Syafar (ifulaziale@gmail.com)
HAMPIR setiap tahun harga bahan-bahan pangan di pasaran naik tajam jelang bulan Ramadhan atau Lebaran.
Entah apakah karena permintaan konsumen yang memang benar-benar tinggi atau tren kesengajaan para pelaku usaha.
Tahun ini misalnya, sejumlah pedagang di pasar tradisional kota Balikpapan, Kalimantan Timur sudah menaikkan harga sepekan sebelum puasa.
Komoditas seperti daging, bawang, ikan, sayuran hingga buah-buahan harganya naik pelan-pelan hingga mencapai puncaknya pada H-1 puasa.
Pertanyaannya, apakah sepekan sebelum puasa permintaan konsumen itu sudah sedemikian tinggi?
Rasanya aneh, karena dari pengamatan di lapangan saja, pengunjung di pasar tidak jauh berbeda dengan hari biasa.
Ilustrasi pasar tradisional. (FOTO: net)
Masyarakat pun menganggap fenomena ini sudah jadi tradisi, seperti hukum alam yang sulit dibendung. Ketika pembeli menanyakan ke pedagang, jawabannya selalu klasik.
“Ini bukan tradisi, memang harga dari sananya (pengumpul) sudah segitu, makanya kami juga naikkan,” kira-kira begitu jawaban salah seorang pedagang di pasar tradisional Sepinggan.
Tapi bukan warga Balikpapan namanya jika urung membeli. Walau harga naik 100 kali lipat sekalipun, toh tetap juga diambil. Tak mau ambil pusing, yang penting kebutuhan terpenuhi. Biarlah keluhan-keluhan itu tersampaikan kepada orang-orang rumah atau tetangga. Tak perlu turun ke jalan, apalagi sampai memboikot pasar. Begitulah ramahnya warga Balikpapan.
Celakanya, di tengah situasi itu pemerintah seperti mati gaya. Solusi-solusi yang digagas nyaris sama tiap tahunnya.
Kita hanya akan menyaksikan parade pejabat turun sidak ke pasar-pasar atau supermarket. Diskusi sebentar lalu pulang. Jarang melihat mereka sidak ke petani atau mengecek langsung aktivitas bongkar muat di pelabuhan.
Agus, seorang pedagang daging sapi di Pasar Klandasan Balikpapan, saat dikunjungi sidak oleh instansi terkait, Jumat (13/5/2016). (FOTO: TRIBUN KALTIM/ARIDJAWANA)
Solusi lain yang nyaris sama yaitu membuka Bazar Ramadhan atau pasar murah. Sayangnya pasar murah ini sangat terbatas dan terjadwal waktunya, sehingga mustahil bisa mengcover semua warga. Belum lagi stok yang tersedia pun terbatas.
Kenaikan harga pangan memang bukan masalah lokal Balikpapan atau Kaltim saja, tapi sudah menjadi masalah nasional.
Kendati Menteri Pertanian Amran Sulaiman kemarin (10/6/2016) telah menjamin bahwa beberapa komoditas seperti beras, cabai, bawang, dan minyak goreng masih aman selama puasa, tapi apakah pemerintah juga bisa memastikan harga tidak ikut naik?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/syaiful-syafar_20160611_152417.jpg)