Breaking News

SALAM TRIBUN

Menjadi Diam

Kadang terlintas keinginan untuk diam saja. Cukup duduk manis. Mengawali hari dengan yang ringan-ringan. Menyeruput kopi jahe, misalnya.

DOK TRIBUNKALTIM

"Kritik dan saran kan tidak harus selalu disampaikan secara terbuka," dalihnya suatu hari, ketika saya mencoba membujuknya untuk kembali mau berkomentar terhadap sesuatu yang sedang menjadi perhatian publik. Dan seperti yang sudah-sudah, ia bergeming. Stop bicara, kecuali terkait masalah syariah.

Suatu pagi saya datang ke pangkalan pungut Sungai Karang Mumus Samarinda. Sedang berbincang dengan sejumlah mahasiswa, mendadak nyelonong seseorang. Ia mengaku pensiunan pegawai negeri sipil di sebuah instansi. Yang menarik adalah ucapannya, begitu tahu saya seorang wartawan.

"Hati-hati. Wartawan itu satu kakinya ada di neraka," katanya membuka pembicaraan. Tanpa basa-basi.

Sejenak saya terdiam. Bulu kuduk saya merinding. Beberapa mahasiswa perlahan meninggalkan kami berdua. Dan seperti tidak mau tahu dengan kekagetan saya atas topik yang tidak biasa ini, bapak berkopiah haji itu segera memberondongkan sejumlah dalil kepada saya.

Menurut dia, apa yang ditulis wartawan bisa berdampak besar. Jika yang ditulisnya tidak benar, atau tak sesuai fakta, akan berpotensi ke fitnah. Bahkan, jika menulis yang benar pun, atau sesuai fakta, tetap berpotensi ke ghibah.

Saya hanya terdiam. Lebih karena saya memang ingin mendengar lebih jauh darinya. Namun orang itu berlalu sebelum menjelaskan semuanya. Kawan saya, Dr Wahyuni Safitri, Dekan Fakultas Hukum UWGM Samarinda datang, dan mengajak saya meriung di ujung jembatan.

***

SAYA beberapa kali berkesempatan menyimak sambutan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Hal yang mengesankan saya adalah ia memiliki daya ingat yang luar biasa.

Ia mampu menyebut angka demi angka, data-data dengan sangat tepat di antara sambutannya yang biasanya lumayan panjang. Apa pun data itu. Terlebih mengenai berbagai angka pencapaian keberhasilan.

Awang Faroek termasuk sedikit pejabat di Tanah Air yang mampu berjam-jam bicara tanpa teks. Tanpa jeda. Selain jago menyanyi. tentunya.

Dan yang lebih mengesankan lagi adalah ia tak pernah absen menyodorkan seabreg prestasi yang diraihnya. Lewat berbagai penghargaan itu dan yang ia gambarkan, Kaltim sepintas memang seperti menjadi daerah tanpa cela. Nyaris sempurna.

Contohnya, soal keterbukaan informasi publik (KIP). Kita mengalahkan DKI Jakarta, daerah yang justru paling banyak melakukan open data (termasuk terkait KUA-PPAS yang sudah dipublikasikan hingga satuan tiga).

DKI terpental, bahkan dari sepuluh besar. Meski demikian, Komisi Informasi (KI) Kaltim bersama Diskominfo Kaltim dengan rendah hati menyatakan bahwa Kaltim masih perlu belajar dari DKI. Loh, kok?

Ya, mungkin saya akan diam saja. Tak perlu menulis.

Mungkin tetap terus melihat, sekedar hanya karena memiliki mata. Mendengar, sekedar karena ada telinga. Tapi, tidak sekarang.

Nanti, ketika pemerintah sudah benar- benar responsif menyikapi keluhan rakyatnya. Nanti, ketika sistem keterbukaan informasi dan penggunaan TI sudah dibangun sedemikian rupa, dan tidak ada lagi rakyat yang terpaksa menggugat di KI.

Ketika kepala daerah sudah memenuhi semua janji politiknya. Nanti, mungkin, saat saya sudah menjadi orang baik.[]

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved