Salam Tribun

Mudik Asyik, Mudik Bermakna

Beberapa kawan juga punya cerita mudik yang seru saat melintasi jalan trans-Kalimantan.

TRIBUN KALTIM/RUDY FIRMANTO
Dinas Perhubungan Balikpapan mulai melakukan pemeriksaan sejumlah bus di terminal untuk kesiapan arua mudik lebaran 2016. 

Oleh Kholish Chered

(kholish_tribunkaltim@yahoo.co.id)

BULAN Ramadhan tahun ini mulai memasuki fase penghujung. Kian dekat momentum Idul Fitri, kian sibuk masyarakat menyiapkan satu agenda, yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai keharusan; mudik alias pulang kampung.

Mudik dinilai sebagai kesempatan strategis untuk berkumpul dengan orangtua, keluarga dekat, juga teman masa kecil. Plus bisa saling bermaafan dan membangun resolusi baru di hari fitri. Inilah yang membedakan mudik dengan liburan biasa di sebelas bulan lainnya.

Saya pun punya memori spesial tentang mudik. Keluarga besar ayah saya berada di Balikpapan dan Samarinda. Sedangkan keluarga besar ibu berdomilisi di Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Beberapa tahun sekali kami mudik ke Kota Bangun. Selebihnya, berkumpul dengan keluarga ayah di Samarinda atau Balikpapan, tergantung "giliran".

Perjalanan mudik ke Kota Bangun, medio 90-an, menjadi saat yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Senang karena sudah terbayang serunya berkumpul bersama kakek dan nenek, makan kerupuk ikan gabus, memanggang ikan sungai, plus memetik aneka buah-buahan di kebun. Tegang karena kondisi jalan bak arena reli Paris Dakkar.

Kami bergerak dari Terminal Sungai Kunjang menggunakan bus "tiga perempat". Pilihannya hanya dua layanan, bus Harapan Jaya atau Liang Transport, yang saat itu kondisinya masih prima. Dus, bermodal "Antimo", bergeraklah kami menembus belantara Kutai.

Perjalanan Samarinda-Tenggarong ditempuh melalui ruas Loa Janan. Setelah itu, perjalanan panjang menuju Kota Bangun dimulai. Kalau cuaca cerah, perjalanan lebih cepat dan mulus. Tapi kalau hujan deras, alamat jadi ajang atraksi para sopir. Hebatnya, mereka begitu lihai melewati kubangan lumpur yang dalam, meski pada waktu tertentu juga terjadi insiden.

Beberapa kawan juga punya cerita mudik yang seru saat melintasi jalan trans-Kalimantan. Irisan kesan yang rata-rata sama, tegangnya melintasi Gunung Rambutan (menuju Banjarmasin) dan Gunung Menangis (menuju Bontang). Terlepas segala mitos, terungkap harapan mereka agar kondisi jalan tersebut terus dirawat agar bisa dilalui secara nyaman.

Terkini, Kabid Bina Marga Dinas PU Kaltim, Joko Setiono, mengungkapkan, ada lima ruas utama mudik di Kaltim. Yakni batas Kalsel-Batu Aji-Kuaro-Kademan-Panajam, Balikpapan-Samarinda, Samarinda-Tenggarong-Kota Bangun-Kubar, Samarinda-Bontang-Sangatta, dan Sangata-SP Perdau-Muara Wahau-Berau.

Kondisi jalan nasional di Kaltim dikatakannya sudah 93,6 persen dalam kondisi mantap. Hanya 6,3 persen yang dalam kondisi rusak ringan dan rusak berat.

Data Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim, panjang ruas jalan nasional di Kaltim mencapai 1.710,9 km. Dari jumlah tersebut, 65,8 km mengalami rusak ringan dan 42,6 km rusak berat.

Tercatat, ada tiga ruas jalan dengan panjang kerusakan tertinggi. Tiga jalan tersebut Muara Lembak-Pelabuhan Ronggang 8.9 kilometer rusak ringan dan 13,57 kilometer rusak berat.

Berikutnya ruas Batu Aji-Kuaro 9 kilometer rusak ringan dan 4,9 kilometer rusak berat. Serta rute SP Blusuh-Batas Kalteng 11,7 kilometer rusak ringan dan 11,10 kilometer rusak berat.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved