SALAM TRIBUN

Naik Kapal

Kenyamanan menjadi sesuatu yang mewah di sini. Para penumpang harus berjejal, bersikutan kalau perlu, karena ruang tunggu yang kecil.

DOK TRIBUNKALTIM

SALAM TRIBUN

Naik Kapal

Oleh ACHMAD BINTORO

Mungkin saya telah terprovokasi oleh ucapan seorang juru parkir di dekat kantor Pelni Samarinda. Ia bilang naik kapal Pelni kini sudah lebih nyaman. "Tiketnya saja sudah lebih canggih," katanya, seraya menunjukkan tiket berlatar biru laut miliknya yang baru ia beli untuk mudik ke Surabaya. Ada barcode di selembar tiket kelas ekonomi itu. Mungkin itu yang ia maksudkan dengan canggih.

Penggunaan sistem barcode tentu bukan berarti adanya peningkatan layanan secara keseluruhan. Tapi saya tetap juga membelinya. Mungkin lebih karena untuk menyesuaikan kondisi kantong. Harga tiket pesawat, mendekati lebaran seperti sekarang ini, cenderung melonjak dan sulit terjangkau. Saya pun membeli empat tiket: untuk istri dan ketiga anak saya. Semuanya kelas ekonomi.

Petugas Pelni mengatakan, kelas I, II, III, IV dan VIP (berkamar) sudah dihapus di hampir seluruh kapal. Sekat-sekat kamar penumpang dibongkar dan dijadikan ruang ekonomi dengan dipan-dipan yang dilengkapi busa. Busanya pun gratis. Tak lagi disewakan seperti dulu. Pelni menyisakan hanya untuk dua kapalnya yang masih menggunakan kamar. KM Tidar untuk rute pelayaran ke Indonesia Timur, dan KM Kelud ke wilayah Sumatra.

Ini sempat membuat kami ragu. Membayangkan akan berjejal di ruang ekonomi, atau tidur di anak- anak tangga dan koridor dengan tumpukan koper rasanya tak sanggup lagi. Keempatnya perempuan, termasuk si bungsu yang baru kelas 1 SD. Saya tidak ikut. Ditambah kondisi toilet ekonomi yang umumnya jorok, mampet.

Namun dengan pertimbangan sudah lima tahun anak-anak menahan kangen bertemu jiddah, ami, halati dan para sepupunya di Palu, mereka pun menguatkan hati untuk tetap naik kapal. Banyak keluarga dari rantau yang akan mudik dan berkumpul dalam ziarah Arab di Palu. Ziarah Arab biasa dilakukan pada hari kedua lebaran. Dimulai dari masjid jami di komplek Alkhairaat, rombongan lalu bertandang dari rumah ke rumah sejumlah tokoh warga turunan Arab. Anak-anak terlihat antusias.  

Lagi pula, bukankah Pelni kabarnya sudah melakukan banyak perubahan? Saya dengar direksi Pelni bertekad untuk lebih memanusiakan para penumpang kapalnya. Saya mulai agak percaya saat membeli tiket. Sudah online. Tak ada lagi terlihat calo yang dulu selalu ngepos di kantor-kantor Pelni. Jumlah penumpang sengaja dibatasi sesuai kapasitas. Tidak akan ada esktra atau penambahan, meski jelang lebaran.

Bentuk tiket pun lebih simpel. Hanya selembar kertas. Bandingkan dengan dulu yang berbentuk "buku" dengan cover kertas mengkilap yang di dalamnya masih ada dua lembar kertas berkarbon, hanya untuk satu nama penumpang. Sungguh sangat tidak efisien. Masih manual lagi.

Jadi, rasanya tak mungkin kalau Pelni cuma membenahi sistem penjualan tiketnya saja. Sayangnya, harapan saya tidak bersambut. Begitu tiba di Pelabuhan Semayang Balikpapan, kami menghadapi dan menyaksikan pemandangan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Para penumpang dibiarkan berjejal di teras pelabuhan. Ruang tunggu sudah penuh. Saya melihat wajah-wajah yang pasrah. Letih. Tak berdaya, bahkan seandainya kapal akan molor tiba di pelabuhan. Sebagian lainnya terjepit dan berhimpit di antara tumpukan barang bawaan mereka, berkipas-kipas menahan pengap. Ini tak ubahnya melihat pengungsi para korban bencana.

Pelni mungkin sudah terlalu biasa menyaksikan kondisi semacam ini. Mungkin dianggapnya sebuah kelumrahan, yang wajar diterima penumpang kapal. Tapi macam inikah yang disebut dengan layanan "memanusiakan" manusia? Mana janji akan membuat nyaman penumpang? Pelni hanya memasang sebuah tenda di depan teras seperti orang bikin hajatan. Tujuannya mungkin agar penumpang tidak sampai terpapar langsung oleh sengatan matahari.

Para penumpang yang biasa naik pesawat dan baru kali pertama di pelabuhan kapal Pelni, mungkin akan terkaget-kaget melihat keadaan ini.

Kenyamanan menjadi sesuatu yang mewah di sini. Para penumpang harus berjejal, bersikutan kalau perlu, karena ruang tunggu yang kecil. Satu-satunya perubahan, kalau boleh disebut begitu, adalah tersedianya "garbarata" dari ruang tunggu ke pintu kapal di dek empat. Bedanya dengan garbarata di Bandara SAMS Balikpapan, di sini hanya berupa koridor darurat berpagar besi dan berkanopi dari bahan plastik fiber.

Perubahan lainnya, penumpang harus terlebih dulu check in, seperti layaknya penumpang pesawat. Penumpang menyerahkan tiket dan KTP. Petugas lalu akan menempelkan tiket itu ke alat pembaca barcode. Cara ini lebih cepat. Bedanya, kalau di bandara, habis check in kita akan diarahkan masuk ke dalam ruang tunggu yang nyaman. Anda bisa membaca atau ngopi sambil menunggu jam keberangkatan tiba. Sedang di sini, bagaimana kita mau membaca dan duduk bersantai. Kursi tak ada. Di dalam sudah penuh.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved