Salam Tribun
Setelah Mudik Apa?
Daerah dengan populasi 3,6 juta jiwa dan 524.656 jiwa itu memang mayoritas dihuni pendatang
Penulis: Syaiful Syafar |
Terlepas dari itu, yang perlu jadi perhatian utama sesungguhnya adalah soal keselamatan angkutan lebaran ini. Alangkah percuma rasanya jika armada-armada tersebut tak ditunjang dengan alat keselamatan. Atau demi mengejar keuntungan, pengelola angkutan tega mengabaikan kapasitas muatan.
Belum lagi jika kita bicara angkutan darat. Kondisi jalan di Kaltim dan Kaltara yang rusak, banyak lubang, tentu sangat rawan kecelakaan.
Kondisi angkutannya juga belum bisa diandalkan. Bayangkan, dari 20 bus yang melayani perjalanan antar provinsi di kota Balikpapan, hanya empat bus yang dianggap layak beroperasi. Sontak saja petugas Dishub terkejut, sebab setiap harinya ada belasan bus keluar masuk terminal Balikpapan.
Bila hal-hal seperti ini tidak diperhatikan, maka dapat dibayangkan ada berapa ribu nyawa yang bisa melayang cuma-cuma.
Ancaman tak hanya di situ. Aksi kejahatan juga kerap memuncak di saat arus mudik. Modusnya beragam, namun yang paling sering terjadi adalah pembiusan.
Di beberapa daerah, hampir setiap hari ketika musim mudik lebaran, ada saja pemudik yang terkena bius. Bahkan, sampai ada yang tidak sadarkan diri hingga berhari-hari, dan barang bawaan berharganya hilang dibawa oleh orang yang membius.
Penumpang bersiap mudik ke kampung halaman dengan angkutan bus umum antar kota di Terminal Pulo Indah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (17/6/2016). (FOTO: TribunKaltim.co/Azhar Sriyono)
Oleh sebab itu, pemudik juga harus menghindari membawa barang berharga secara berlebihan, karena bisa memancing kejahatan. Walaupun harus dibawa, simpan secara baik-baik, jangan sampai orang yang punya niat jahat mencelakai Anda.
Lalu, apakah mudik salah dan harus dihindari? Tentu tidak.
Mengutip pernyataan Cak Nun, bahwa pulang ke kampung halaman sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya.
Orang mudik itu merenungi sumber hidupnya. Mendatangi kembali tanah kelahirannya, kampung halaman, keluarga, bapak ibu, kakek nenek, kesadaran rahim ibu, dan kelahiran mereka di dunia sampai pada akhirnya mereka meneruskan perjalanan itu ke mudik teologis.
Ya, mudik teologis, yakni kesadaran dan keridaan bahwa kita semua ini berasal dari Allah dan sedang menempuh perjalanan kembali kepada Allah juga, karena tidak ada tempat lain untuk kembali.
Mestinya, dengan Idul Fitri, dengan mudik segala arti, kita bisa mulai menakar, mempertimbangkan, dan menentukan setiap langkah kita besok sesudah Hari Raya -- menjadi langkah karena Allah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/syaiful-syafar_20160611_152417.jpg)