Kolom Rehat
Mengapa Westerling Tersenyum?
kalau hanya senyum, orang kejam seperti Westerling pun bisa saja tersenyum
oleh: ARIF ER RACHMAN
JUMAT sore, setelah menemui dan berdukusi dengan Mensos Khofifah Indar Parawansa yang kebetulan bertandang ke kantor, saya pulang ke rumah untuk sekadar ngopi sambil santai sejenak dengan mendengarkan musik. Saya memilih memutar CD kumpulan lagu-lagu terbaik Iwan Fals.
Sampai pada lagu Pesawat Tempurku, tepatnya setelah lirik ...kalau hanya senyum yang engkau berikan, Westerling pun tersenyum..., anak bungsu saya, Attar, yang sedang mewarnai tiba-tiba bertanya: "Kenapa Westerling tersenyum, Pa?
Attar baru 5 tahun dan otaknya sedang dipenuhi sejuta pertanyaan tentang apa pun.
"Ini lagu soal cowok yang naksir cewek yang biasa lewat depan rumahnya. Cewek itu cuma kasih senyum, padahal cowok itu maunya cewek itu mau jadi pacarnya. Jadi si cowok itu merasa kurang kalau dikasih cuma senyum, soalnya kalau hanya senyum, orang kejam seperti Westerling pun bisa saja tersenyum," jawab saya panjang lebar tanpa peduli dia paham atau tidak.
"Ooo,,." katanya, "terus, kenapa Westerling tersenyum, Pa?"
Hrrrggg... "Ya karena dia bisa tersenyum. Sudah sana selesaikan mewarnainya."
baca juga : Islandia dan Surga Jurnalisme
Kalau Attar sudah besar, saya mungkin menjawab begini: Westerling pun tersenyum karena hingga akhir hayatnya ia tidak pernah diadili atas kejahatannya melakukan serangkaian pembantaian terhadap puluhan ribu orang di Sulawesi Selatan dalam agresi militer Belanda pasca kemerdekaan pada 1946-1947.
Pembantaian dengan korban terbesar terjadi pada bulan Februari berhujan seperti ini, 60 tahun silam di Galung Lombok di Kabupaten Polewali Mandar yang saat ini masuk dalam wilayah Sulawesi Barat. Di daerah ini, bukan hanya orang-orang yang dianggap pemberontak dan ekstrimis yang dibunuh, tapi juga ratusan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang setia pada Republik Indonesia yang baru terbentuk.
Tokoh utama semua pembantaian kejam ini tak lain dan tak bukan adalah Raymond Pierre Paul Westerling yang disebut dalam lagu Iwan Fals dan ditanyakan Attar tadi.
Saat tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, Westerling baru berusia 27 tahun. Meski begitu, ia sudah sangat terlatih sebagai tentara.
Westerling lahir di Istambul, Turki, sebagai anak kedua dari Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Karena tempat kelahirannya itu, orang Sulawesi kemudian menjulukinya sebagai "Jagal dari Turki". Ia mendapat pelatihan khusus di Skotlandia.
baca juga : Adil Sejak Dalam Kalam
Westerling muda masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Pada 27 Desember 1941 tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton, dekat Birmingham. Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin, dan tak berpenghuni.
Melalui pelatihan yang sangat keras dan berat, mereka dipersiapkan menjadi komandan pasukan Belanda di Indonesia. Karena kerasnya sifat dan tempat pelatihan tersebut, seorang instruktur Inggris bahkan menyebutnya sebagai "neraka dunia".
Setelah bertugas di Eastbourne sejak 31 Mei 1943, bersama 55 orang sukarelawan Belanda lainnya pada 15 Desember 1943 Sersan Westerling berangkat ke India untuk betugas di bawah Laksamana Madya Mountbatten, Panglima South East Asia Command (Komando Asia Tenggara). Mereka tiba di India pada 15 Januari 1944 dan ditempatkan di Kedgaon, 60 km di utara kota Poona.
Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi komandan pasukan khusus, Depot Speciale Troepen (DST/Depot Pasukan Khusus) dan kemudian ditempatkan di Makassar untuk menumpas perlawanan rakyat pendukung Republik di Sulawesi Selatan. Sejak itu, pembantaian demi pembantaian terjadi di desa-desa dari Makassar, Parepare, hingga Mandar.
Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas benar. Pada 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa. Angka 40.000 ini pertama kali diutarakan oleh Kahar Muzakkar, pejuang kemerdekaan yang kemudian menentang pemerintahan Soekarno.
baca juga : Bernard Shaw dan Komunisme
Berdasarkan pemeriksaan Pemerintah Belanda pada 1969, sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri lewat otobiografinya menyebut korban akibat aksi yang dilakukan pasukannya tidak lebih 600 orang.
Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM
Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh izin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.
Sebenarnya, Westerling sudah nyaris diadili dan bahkan sempat ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura. Pemerintah RI mengajukan ekstradisi terhadap Westerling namun ditolak Pengadilan Tinggi Singapura dengan alasan Westerling adalah warga negara Belanda.
Lewat konspirasi para petinggi Belanda, Westerling akhirnya bisa kembali ke Belanda. Pada 17 Desember 1954, pejabat kehakiman di Amsterdam resmi mengakhiri pemeriksaan karena tidak terdapat alasan untuk pengusutan lebih lanjut. Pada 4 Januari 1955 Westerling menerima pernyataan tersebut secara tertulis.
Pada pada 26 November 1987, dalam usia 68 tahun, Westerling meninggal dengan tenang, dan mungkin dengan tersenyum.
Begitu. (*)
***
Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.
Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rehat_20160313_191547.jpg)