Minggu, 12 April 2026

Pascapenutupan Lokalisasi

Kisah PSK yang Tetap Praktik di Eks Lokalisasi, Sebenarnya Capek Kerja seperti Ini. . .

Tidak ada lampu-lampu genit dan suara musik karaoke atau disco mix dari pengeras suara yang saling adu suara di rumah-rumah bordil.

Penulis: tribunkaltim | Editor: Amalia Husnul A
tribunkaltim.co/aridjawana
Suasana di lokalisasi Manggarsari, Kota Balikpapan, Kamis (21/7/2016). 

TRIBUNKALTIM.CO - Kamis (21/7/2016) sekitar pukul 21.00 Wita tampak remang. Hanya ada cahaya lampu 5 watt yang dipasang di teras rumah.

Sejak ditutup, suasana eks lokalisasi Manggar Sari, Balikpapan Timur meski buka tidak seramai dulu.

Tidak ada lampu-lampu genit dan suara musik karaoke atau disco mix dari pengeras suara yang saling adu suara di rumah-rumah bordil.

DI setiap gang masih ada wanita malam yang duduk di kursi kayu depan rumah. Mereka sekadar berdiri sambil memainkan asap rokok. Mereka selalu terlihat menggoda dengan memakai baju ukuran mini, celana levis sepaha.

Badan yang gemuk, namun tetap berisi makin menggoda pria yang datang. Dengan wajah yang selalu mengumbar senyum dan tatapan menggoda. Bibirnya pun selalu terlihat merah, basah, dan setengah terbuka.

BACA JUGA: Terpaksa Kembali ke Lokalisasi, PSK Kecewa Pemerintah Tidak Tepati Janji

"Kalau seperti ini jarang ada yang ribut. Tidak berisik dan bisa tenang. Jauh bedanya apabila ada musik," ujar Mba Atik (nama samaran), salah satu PSK ditemui di eks lokalisasi Manggar Sari.

Mba Atik yang sudah 3 tahun lebih mengadu nasib menjadi PSK menceritakan pengalamannya kembali lagi menjadi PSK yang dulunya ditutup, namun tetap beroperasi lagi.

"Saya bisnis di sini sekitar tiga tahunan. Dengarkan ini, orang yang ingin bekerja seperti ini. Tidak mau," jawabnya.

Ia pun menyampaikan alasan klasik, yaitu permasalahan ekonomi. "Karena terpaksa. Anaknya dibiayai, orangtuanya juga dibiayai. Sebenarnya tidak ada yang mau kerja seperti ini," tutur Mba Ati. Ia tersenyum sinis.

BACA JUGA: Beroperasi di Pinggir Jalan, Memanfaatkan Kamar Kos yang tak Rawan Razia

Selalu saja alasan ekonomi. Namun, perempuan siapa yang ingin nasibnya seperti itu. Setiap hari melayani laki-laki hidung belang yang datang dan pergi untuk melampiaskan nafsu berahi.

Ketika ditanya mengenai apakah ia setuju dengan penutupan lokalisasi tempat mencari "makan", Mbak Atik pun menjawab diplomatis.

"Sebenarnya sih antara setuju dan tidak setuju. Coba bandingkan, ya, dulu, masih ada Dolly dan tempat lainnya. Tidak ada perempuan yang mengalami kekerasan seks seperti yang terjadi Tengerang, Jawa Barat. Namun, pasti ada juga namanya tindakan seperti itu, mungkin ada satu atau dua. Tapi, tidak ada sampai belasan orang. Sejak ditutupnya kompleks, nah, banyak kejadian seperti itu. Seharusnya itu disediakan tempat yang bagus, yang jauh dari pemukiman warga. Atau di pulau, jadi tahu semua di mana. Jadi tahu yang mana brengsek dan tidak brengsek," jelasnya.

Mbak Atik mengungkapkan, rata-rata yang bekerja di sini perempuan di atas 30-an, meski ada juga yang masih muda-muda.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved