Salam Tribun

Ironi Sekolah Sehari

Lapangan olahraga, taman bermain, ataupun tempat bercengkrama di luar kelas berganti menjadi bangunan gedung.

Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Syaiful Syafar
Syaiful Syafar 

Oleh: Syaiful Syafar

GANTI menteri, ganti kebijakan. Istilah ini kembali mengemuka seiring gagasan yang dicetuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menjadi buah bibir karena menggagas sistem full day school untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Alasannya agar anak-anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja. 

Gagasan full day school ini bukan berarti para siswa belajar aspek pengetahuan selama sehari penuh di sekolah, melainkan siswa juga dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, misalnya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Dengan begitu, menurut Mendikbud, para siswa dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan kegiatan kontraproduktif, seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan sebagainya.

Sungguh ide yang tidak main-main, karena sang menteri siap membuatkan payung hukum dan turun gunung ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikannya.

Full day school sebenarnya bukanlah gagasan baru. Lima belas tahun lalu, sekolah model sehari pernah booming dan menjadi tren terutama di sekolah swasta di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya.

Sekolah model begini waktu itu laris manis dan menjadi incaran orangtua karena selain melayani pembelajaran siswa, sekolah juga menjadi tempat penitipan anak. Orangtua yang berangkat kerja sejak pagi dan baru pulang sore hari merasa aman ketika anaknya berada dalam pengawasan guru di lingkungan sekolah.

Namun, pantaskah kebijakan ini diterapkan di desa-desa atau wilayah pelosok perbatasan, yang keseharian para orangtua bekerja sebagai petani atau beternak? Mereka umumnya masih bisa menyempatkan diri pulang ke rumah, menyiapkan makanan untuk anak, lalu menjemputnya di sekolah. Mungkin Mendikbud lupa satu hal, bahwa tak semua daerah siap dari sisi itu.

Sadar atau tidak, full day school juga akan mengundang kapitalisasi di bidang pendidikan yang baru. Dari penyediaan makan siang, penambahan alat bantu pendidikan yang baru bahkan cara ajar dan basis kurikulum yang baru pula. 

Selain itu full day school akan menghambat perkembangan anak-anak untuk komunikasi di masyarakat. Sebab, waktu mereka akan habis di sekolah nantinya. Apalagi ditambah biasanya pengerjaan PR dari guru-guru yang justru mengurangi waktu tidur mereka.

Niat baik Mendikbud untuk membuat anak merasa betah di sekolah bisa saja salah kaprah. Tengok saja sekolah-sekolah di kota, tak terkecuali kota besar di Kalimantan Timur seperti Samarinda dan Balikpapan.

Lahan yang kian sempit membuat sekolah negeri kini bisa dihitung jari. Padahal minat orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri sangatlah tinggi. Akibatnya, sekolah-sekolah itu terpaksa menambah ruang kelas baru untuk menampung siswa yang membludak setiap tahun.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved