Kolom Rehat
Pelajaran dari Pria Berkumis Melintang
Saya mendengar langkah kaki kuda dan melihat dokar melintas di depan rumah ini. Saya lalu bertanya kepada anak muda yang memakai beskap dan blangkon
oleh ARIF ER RACHMAN
SAYA tidak tahu mengapa tiba-tiba berada di sini: di tengah sekelompok orang yang sedang mendengarkan seseorang berpidato atau tepatnya memberikan pelajaran di sebuah rumah kuno. Beberapa di antaranya mengenakan beskap, sarung, dan blangkon. Aneh, hari gini...
Sedangkan yang berbicara di depan adalah pria dengan kumis rapi dan melintang. Ia mengenakan beskap putih dan berpeci hitam. Suara baritonnya yang lantang menghipnotis pendengarnya. Saya sepertinya pernah melihatnya, tapi saya lupa di mana.
"Sosialisme Islam adalah sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialime yang berdasar kepada azaz-azaz Islam belaka. Azaz-azaz sosialisme Islam telah dikenal dalam pergaulan hidup Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW," katanya.
baca juga : Kemerdekaan Sebatang Lisong
Saya yang masih bingung dengan keberadaan saya di sini, menjadi tertarik dengan apa yang disampaikan orang dengan kumis melintang itu, terlebih karena ia berbicara soal sosialisme dan Islam sambil menyebut-nyebut Nabi Muhammad. Dia pasti orang pintar.
Azaz penting mengapa Nabi Muhammad gigih memperjuangkan sosialisme Islam, kata orang itu, karena Islam mengajarkan: sebesar-besarnya keselamatan hendaknya menjadi bagian sebanyak-banyaknya manusia, dan keperluan seseorang hendaknya bertakluk kepada keperluannya orang banyak.
"Termasuk pencapaian rahmatan lil alamien yang menjadi misi kerosulan Nabi Muhammad adalah ingin meletakkan semangat keadilan dan kemanusiaan yang meniscayakan hadirnya sistem yang mensejahterakan," ujarnya dengan penuh keyakinan.
Saya mendengar langkah kaki kuda dan melihat dokar melintas di depan rumah ini. Saya lalu bertanya kepada anak muda yang memakai beskap dan blangkon di samping saya
"Ini di mana ya?"
"Ini di Jalan Peneleh."
"Surabaya?"
"Benar."
Saat sedang mengingat-mengingat bagaimana saya bisa berada di Surabaya dan mengapa masih ada dokar, orang dengan kumis melintang di depan itu terus memberi pelajaran bahwa dasar sosialisme Islam adalah ajaran Nabi Muhammad tentang kemajuan budi pekerti rakyat.
"Sosialisme Islam terbagi dalam tiga anasir, yaitu ....," kata orang itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rehat_20160313_191547.jpg)