Kolom Rehat
Pelajaran dari Pria Berkumis Melintang
Saya mendengar langkah kaki kuda dan melihat dokar melintas di depan rumah ini. Saya lalu bertanya kepada anak muda yang memakai beskap dan blangkon
Saya tidak mengerti apa yang dikatakannya kemudian karena setahu saya itu bahasa Belanda. Saya kembali bertanya kepada pemuda di samping saya tadi.
"Pertama vrijheid, kemerdekaan. Kedua gelijk heid, persamaan. Ketiga broederschap, persaudaraan," jawab pemuda itu. Belum sempat ia menjelaskan lebih lanjut, seorang dengam beskap dan blangkon serupa yang duduk di belakang menegur kami.
"Kusno, jangan bicara sendiri," katanya.
"Maaf, Mas Semaun," kata pemuda yang ternyata bernama Kusno itu kepada si penegur yang rupanya bernama Semaun.
Pria berkumis melintang yang sedang berbicara di depan kini menyuarakakan patritisme dan nasionalisme.
"Sesungguhnyalah nasionalisme, apalagi patriotisme, adalah suatu perasaan yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Patriotisme dan nasionalisme adalah tanda-tanda hidupnya suatu umat, sedang kemerdekaan nasional wajib kita capai sebagai salah satu syarat menjalankan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan penghidupan," ujarnya.
Mengapa orang di depan itu berbicara seolah-olah kita belum merdeka. Saya makin penasaran.
"Islam itulah cita-cita kita yang tertinggi, sedang nasionalisme dan patriotisme itu adalah sebagai tanda-tanda hidup kita agar sanggup melaksanakan Islam dengan seluas-luas serta sepenuh-penuhnya," lanjutnya.
baca juga : Dendam Memperpanjang Duka
Sambil mendengarkan saya mulai menghubung-hubungkan nama-nama dan keadaan-keadaan yang saya alami ini. Rasanya saya sudah mulai paham, tapi..
"Pertama-tama kita adalah seorang Muslim, dan dalam ke-Musliman itulah jiwa nasionalis dan patriot untuk berjuang menuju kemerdekaan negeri tumpah darah kita. Pada tiap-tiap saat bersedia pula kita mengorbankan segala apa yang ada pada diri kita untuk mencapai
Kemerdekaan Tumpah Darah kita. Dan, sebagai seorang Muslim menjadi anggota suatu partai seperti yang dikehendaki Allah Ta'ala, yaitu partai yang mengedepankan pada kebaikan serta kebenaran dan mencegah pada yang munkar, ummatun yad'uuna ilal khairi waya'muruuna bil ma'rufi wa yanhauna 'anil munkar. Begitulah sifat partai di mana kita telah menjadi anggota sejak kelahirannya hingga saat ini, yaitu Partai Sarekat Islam Indonesia," kata itu yang disambut tepuk tangan dan teriakan pendengarnya.
Saya tahu sekarang. Saya sedang dalam pertemuan Partai Sarekat Islam. Berarti pria dengan kumis melintang yang berbicara itu adalah HOS Tjokroaminoto, sang pemimpin partai. Sedangkan anak muda bernama Kusno tadi adalah murid Tjokroaminoto yang kita kenal kemudian sebagai Sukarno, Presiden perta RI. Sementara Semaun adalah juga murid Tjokroaminoto yang kemudia berbeda pemikiran dan menyempal dengan mengibarkan bendera Sarekat Islam Merah yang merupakan cikal-bakal Partai Komunis Indonesia.
Tapi mengapa saya berada di abad pergerakan di sekitar tahun 1918-an ini?
Tiba-tiba pundakku terasa diguncang-guncang.
"Mas, mas, bangun. Pindah tidur ke kamar," kata istri saya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rehat_20160313_191547.jpg)