Perbatasan
Beginilah Penampakan Gadis Dayak: Kulit Mulus, Wajah Menawan, Pakai Lipstik dan Hak Tinggi
Warna kulit kuning langsat, mulus. Mengenakan pemoles bibir alis lipstik memancarkan senyuman simpul nan jelita.
Menu makan siang warga setempat adalah nasi dan bubur ketan putih. Nasi yang dibungkus daun deloe, semacam daun talas.
“Daun deloe memang spesial ditanam untuk bungkus nasi,” kata Belo Hugae, seorang pemuka masyarakat adat Apauping.
Nasi-nasi itu dibungkus daun, seprti halnya nasi timbel khas Jawa Barat.
Kemudian saat makan, warga setempat menggunakan daun pisang pengganti piring. Memang ada beberapa piring yang digunakan tamu dan pejabat setempat.



BACA JUGA: Jenderal Ini Makan Singkong Bersama Prajurit dan Menginap di Pos Perbatasan
Desa Wisata yang Dikunjungi Wisatawan Manca Negara
Desa Apauping memang masih terpencil. Letaknya di tengah hutan. Sulit dijangkau. Tapi pemandangan sekilas, ratusan orang yang berasal dari 63 rumah tangga penduduk desa ini sungguh 'hidup'.
Sika ditemui Surat Kabar Tribun Kaltim/TribunKaltim.co di depan rumahnya saat menjemur sejumput lada, kurang lebih stu kilogram di halaman rumahnya di Apauping.
Sika mengaku pernah bekerja di perusahaan pengelola hutan Malaysia tahun 1990-an. Dia sendiri mengaku, bepergian ke Ibu Kota Kabupaten Malinau saja baru sekali seumur hidupnya.
“Kami di desa ini hanya mengandalkan ladang padi, dan kebun. Kalaupun ada lada, sedikit saja. Kami sulit mencari uang. Mau pergi, jalan darat masih terisolasi. Mau naik pesawat terbang, mahal,” kata Sika.
BACA JUGA: Sulitnya Transportasi di Perbatasan, Sampai Tua Warga tak Pernah ke Kota
Penurutan senada diucapkan Irang Lawai, yang saat ditemui mengenakan seragam pejuang Legiun Veteran Republik Indonesia. “Kami memang masih terpencil,” katanya.
Ditemui terpisah, Son Lenggang, seorang guru pada Sekolah Dasar Negeri 002 Bahau Hulu yang terletak di kampung Apau Ping, mengakui desanya sungguh jauh dari akses transportasi. “Desa kami masih terisolasi,” kata Son, lulusan Universitas Borneo Tarakan.
Kampung Apau Ping dihuni ratusan orang warga yang terdiri atas 63 kepala keluarga. Penduduknya umumnya etnis Dayak Kenyah Lepok Ke. Satu-satunya akses transportasi umum adalah sungai.
Ketika air sungai dalam, ketinting dari kampung Apauping ke ibu kota Desa Long Alango, membutuhkan waktu dua jam. Sedangkan kalau menempuh jalur darat, jalan kaki membutuhkan waktu empat hari.
Rute udara ke Long Alango dilayani penerbaangan perintis dari Malinau. Namun jadwal terbangnya tidak menentu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/perempuan-dayak-kenyah1_20160831_112740.jpg)