Salam Tribun
Stop Ngutang
Bahkan ada yang merasa tenang meskipun hidupnya berkubang dalam utang, contohnya; belum habis pinjaman pertama, sudah meminjam lagi.
Mohammad Abduh (superbeddu@gmail.com)
Utang. Sudah pasti semua kenal dengan istilah yang satu ini. Utang merupakan tindakan meminjam sesuatu, baik barang atau uang kepada orang lain.
Berutang dalam agama diperbolehkan. Bahkan di dalam Islam, terdapat pula adab-adab dan peraturan berutang.
Meskipun dibolehkan, namun bukan berarti utang menjadi solusi terbaik. Sayangnya saat ini banyak dari kita yang meremehkan dan menganggap kecil pada kebiasaan berutang.
Bahkan ada yang merasa tenang meskipun hidupnya berkubang dalam utang, contohnya; belum habis pinjaman pertama, sudah meminjam lagi.
Utang memang manis, dan membuat orang lebih tertarik, karena itu tak heran jika saat ini banyak orang atau perusahaan yang berlomba-lomba memberikan fasilitas berutang pada masyarakat yang disebut kredit. Dari mulai perabotan dapur, gadget, hingga mobil bisa dimiliki dengan jalan berutang.
Jika hal ini dibiarkan, maka ini akan berlarut-larut dan akan "menular" kepada orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi, dengan banyaknya fasilitas untuk berutang yang disediakan oleh lembaga-lembaga, badan-badan atau perusahaan-perusahaan yang menganut sistem ribawi dengan bunga pinjaman tinggi.
Perlu dipahami bahwa berutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Tetapi, seseorang yang terbiasa berutang bisa saja mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan dosa, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya adalah dosa besar.
Mungkin kita pernah menemukan orang-orang yang sering berutang dan dililit oleh utangnya. Apa yang menjadi kebiasaannya? Bukankan orang tersebut suka berdusta, menipu dan mengingkari janjinya? Hidupnya pun jadi tak tenang, karena pikirannya dipenuhi rasa gelisah.
Kebiasaan berutang dengan jalan yang tidak benar haruslah dihindari, karena dampaknya sangat buruk bagi diri sendiri. Kita tidak tahu, kapan kematian akan menyapa.
Bayangkan, bagaimana jika nyawa kita sudah terburu dicabut, padahal hutang kita masih belum terlunasi? Apa ingin keluarga yang kita tinggalkan dikejar utang?
Satu-satunya cara agar anda dapat keluar dari lilitan hutang adalah dengan memahami mengapa kita berutang pada saat pertama kali.Ada beberapa hal yang bisa jadi membuat kita jadi terlilit utang. Kita sering membeli barang-barang yang tidak terlalu anda butuhkan.
Jika ada barang yang kita inginkan, dan kita tidak dapat membeli secara tunai sekarang, maka jangan membelinya. Parahnya lagi, kita tidak memiliki rencana anggaran, sehingga pengeluaran sering tak terkontrol. Bahkan banyak orang berasumsi bahwa jika menunggu dan mencari uang lebih banyak, maka keuangan akan membaik dengan sendirinya.
Ingatlah selalu bahwa hutang dapat dihindari dan dihilangkan. Jangan menggunakan uang untuk mengesankan orang lain. Jangan hidup dengan anggapan bahwa kekayaan selalu diukur dengan materi. Kelola uang dengan bijak sehingga uang tidak mengatur kita.
Janganlah membiasakan diri untuk berhutang. Terutama berhutang yang tidak memiliki jaminan. Apabila ingin berhutang, maka niatkanlah dengan hati yang jujur untuk segera melunasi hutang tersebut pada waktu yang telah dijanjikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/mohammad-abduh_20160420_101424.jpg)