Tiga Faktor Ini Berpotensi Ganggu Kestabilan Harga
"Sedangkan kelompok volatile foods justru mengalami deflasi minus 1,02 persen (mtm) dan 2,24 persen (yoy)," jelas Harry.
Penulis: Rafan Dwinanto |
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Fenomena La Nina (musim basah) berpotensi mengganggu pasokan dan distribusi barang kebutuhan pokok.
Hal ini bisa memicu inflasi, atau peningkatan harga kebutuhan pokok.
Deputi Bank Indonesia (BI) perwakilan Kaltim, Harry Aginta, mengatakan kondisi demikian patut diwaspadai.
"Fenomena La Nina dan lonjakan akhir tahun patut diwaspadai. Jangan lupa kenaikan cukai rokok juga punya potensi mengakibatkan inflasi," kata Harry.
(Baca juga: Pejabat Eselon Diminta Segera Ajukan Tax Amnesty)
Dilihat dari pembentuknya, September lalu, kelompok core (inti) mengalami inflasi 0,28 persen (month to month) dan 3,54 persen (year and year). Disusul kelompok administered price sebesar 0 persen.
"Sedangkan kelompok volatile foods justru mengalami deflasi minus 1,02 persen (mtm) dan 2,24 persen (yoy)," jelas Harry.
Kelompok core yang mendorong inflasi September lalu yakni tarif pulsa ponsel dan sekolah dasar.
"Serta masuknya tahun ajaran baru perguruan tinggi," katanya lagi. (*)
***
Baca berita unik, menarik, eksklusif dan lengkap di Harian Pagi TRIBUN KALTIM
Perbarui informasi terkini, klik www.TribunKaltim.co
Dan bergabunglah dengan medsos:
Join BBM Channel - PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/deputi-bank-indonesia-kaltim-harry-aginta_20160919_173010.jpg)