Mimpi Warga Merabu Ingin Kampungnya Kelak Seperti Peternakan Australia
"Doko'an Lemmu. The Ranch of Merabu Village." Tulisan bercat putih itu terpampang di gapura peternakan desa yang akan menyambut saat memasuki Merabu
Sudah Survei Pasar
Kenapa Sapi yang dipilih? Kepala kampung Merabu, Franly mengaku sudah melakukan survei pasar di Berau, dan peluangnya sangat besar. Angka kebutuhan per tahun mencapai 2.800 ekor, tapi baru dapat dipenuhi peternak lokal 1.000 ekor. Kekurangannya harus didatangkan dari daerah luar Berau, bahkan luar Kaltim.
"Celah pasar inilah yang bisa kita isi," kata Franly. Franly adalah pemuda kelahiran Minahasa. Ia berusia 25 tahun.
Kebutuhan daging sapi di Muara Wahau saja cukup tinggi. Satu RPH di sana memerlukan 3 ekor sapi setiap hari. Artinya, dalam satu daur tiga bulan penggemukan perlu 270 ekor sapi. Sedang kemampuan pemenuhan sapi lokal hanya 100 ekor per tiga bulan. Terjadi defisit 17- ekor per tiga bulan.
Dalam jangka 3 tahun ke depan, Franly berharap sebagian hasil peternakan sapi ini dapat untuk membiayai operasional pengelolaan hutan desa. Terwujudnya ranch di tingkat kampung yang tertata indah dan rapi. Di dalamnya akan terpelihara 200 ekor sapi untuk penggemukan, dan 100 ekor untuk pengembangbiakan. Dari lahan peternakan sapi ini akan bisa menghasilkan bio gas yang akan memenuhi kebutuhan gas warga Merabu.
Tak cuma bermimpi membangun peternakan. Ia juga ingin kampungnya kelak bisa mengelola air bersih dari sungai dan danau Nyadeng itu menjadi air minum kemasan. Ini sesuai visi kampungnya, ASIK (Aman Sejahtra Indah dan Kreatif).
Tahun 2016 ini Merabu menjadi satu dari tiga kandidat calon penerima Kalpataru Kaltim. Tahun ini pula mendapatkan penghargaan dari Menteri Kehutanan sebagai pemenang kedua terbaik nasional untuk lomba hutan desa.
Itulah satu lagi kelebihan Merabu. Memiliki sungai yang airnya sangat jernih. Sungai Nyadeng namanya. Ini salah satu anak sungai Lesan di Beray. Debit airnya 5,3 m3/detik. Dengan kebutuhan standar air per orang 60 liter/hari, maka air sungai Nyadengn bisa menopang kebutuhan air untuk jutaan manusia. Jernihnya air ini bersumber dari karst.
"Kami ingin kampung kami nanti benar-benar bisa mandiri, mendapat pemasukan dari ekowisata dan agrosilvopastural. Dengan begitu kami dapat terus menjaga kelestarian hutan di sekitar kami," kata Franly. Ia didampingi Asrani, ketua Lembaga erima Puri dan sejumlah pengurus kampung lainnya serta pihak TNC. Tampak Niel Makinuddin, Senior Manager for Governance & Partnership TNC Kaltim, dan Taufiq Hidayat, Karst & Wehea Protected Area Manager.(bin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kampung-merabu_20161025_121117.jpg)