Kamis, 9 April 2026

Mimpi Warga Merabu Ingin Kampungnya Kelak Seperti Peternakan Australia

"Doko'an Lemmu. The Ranch of Merabu Village." Tulisan bercat putih itu terpampang di gapura peternakan desa yang akan menyambut saat memasuki Merabu

TNC KALTIM
Kepala kampung Merabu, Franly Aprilano Oley berfoto bersama sejumlah tamu seusai berkunjung ke lahan peternakan sapi milik kampung Merabu. Franly berharap dukungan dari instansi terkait di Kaltim untuk mewujudkan mimpi warga sebagai kampung agrosilvopastural. (HO/TNC) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - "Doko'an Lemmu. The Ranch of Merabu Village." Tulisan bercat putih itu terpampang di gapura peternakan desa yang akan menyambut saat memasuki Merabu, kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

"Doko'an artinya tempat. Lemmu adalah hewan banteng. Peternakan sapi, maksudnya. Bahasa kami, Dayak Lebo, tidak mengenal kata untuk padanan sapi. Yang ada hanya untuk banteng," kata kepala kampung Merabu, Franly Aprilano Oley saat menghadap kepala Dinas Kehutannan Kaltim, Wahyu Widhi Heranata di Samarinda, Kamis (20/10/2016).

Di tempat inilah Franly dan warganya menggantungkan mimpi. Ia berharap 10 tahun ke depan, peternakan ini sudah berkembang pesat, dan hutan di sekitarnya tetap terjaga. "Kami ingin menjadi peternakan sapi besar seperti peternakan yang ada di kampung hutan di Australia. Hutannya terjaga, sapinya juga bisa menghidupi warga dan menjadi kampung yang mandiri. Itulah mimpi kami."

Kepala Kampung Merabu Franly
Kepala Kampung Merabu, kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Franly Aprilano Oley saat memaparkan visi kampungnya sebagai model agrosilvopastural di Kaltim. Paparan disampaikan dalam rapat yang dipimpin Kadis Kehutanan Kaltim Wahyu Widhi di Dinas Kehutanan Kaltim, Samarinda, Kamis (20/10/2016)

Merabu adalah sebuah kampung seluas 22.000 ha di kawasan hutan. Meski tinggal di hutan -- 60 persen di hutan lindung dan 40 persen hutan produksi -- warga setempat tidak ikut-ikutan merusak hutan yang terus tergerus oleh aktivitas konversi lahan sawit. Sebaliknya, mereka gigih berjuang mempertahankan hutan di sekitar desanya. Mereka memegang prinsip leluhur bahwa pembangunan tidak harus dilakukan dengan merusak hutan.

Kegigihan mereka mengundang simpati. Salah satunya dari Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) Kaltim. Badan itu menerbitkan keputusan pemberian HPH Desa pada Agustus 2015. Hutan desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara berkelanjutan sekaligus menjamin kelestarian lingkungan. Pendekatan yang dikenalkan oleh TNC
ini merupakan koreksi pendekatan sebelumnya yang hanya memberi hak pengelolaan hutan kepada perusahaan.

Saat ini Merabu sudah membuka lahan seluas 25 hektare untuk pengembangan agrosilvopastural. Sebuah model pengembangan ekonomi desa yang mengombinasikan kehutanan, pertanian dan ternak. Ini kali pertama di Kaltim. Dan rencananya akan ditularkan ke desa-desa lainnya di Kaltim, bahkan Indonesia. Ranch komunal telah dipagar keliling dengan kayu ulin. Di dalamnya sudah ada 40 ekor sapi bantuan Dinas Peternakan Berau.

Untuk mewujudkan mimpi itu, menurut Franly, harus tersedia sedikitnya 300 ekor sapi. Terdiri 200 ekor untuk penggemukan, dan 100 ekor untuk pengembangbiakan. "Kami memiliki lahan sangat luas dan sangat memungkinkan untuk pengembangan ternak sapi," katanya di depan kepala Dishut Kaltim Wahyu Widhi Heranata.

Kini telah disiapkan pula lahan 6 ha untuk penanaman tanaman ternak. Juga kandang penggembukan ukuran 6x20 meter, yang dananya diperoleh dari anggaran dana kampung Rp 200 juta. Kebutuhan air untuk kandang diperoleh dari sungai Nyadeng.

"Kita lihat sudah ada peternakan sapi di kampung yang terletak di kawasan hutan ini. Kami tentu mendukung karena pola ini sesuai konsep perhutanan sosial yang menjadi program prioritas kami," kata Wahyu Widhi yang memimpin diskusi bersama pihak terkait lainnya.

Wahyu Widhi

Selama ini Merabu sudah dikenal dengan madu hutan dan sarang burungnya. Tak kurang dari 3000 liter madu hutan setiap kali panen raya. Kampung ini juga memiliki sarang burung walet. Tercatat sekitar 54 goa yang sebagian besar dulunya adalah penghasil sarang burung. Sejumlah goa kini menghasilkan 600 kg - 1,3 ton.

Kelak banyak orang akan mengenalnya pula sebagai kampung agrosilvopastural, kampung di hutan yang menjadi lumbung sapi bagi kabupaten Berau.

Merabu berada di kawasan bentang alam karst Mangkalihat Sangkulirang, kabupaten Berau. Pada zaman prasejarah sekitar 10.000 tahun silam, goa-goa karst itu pernah dihuni oleh nenek moyang masyarakat Indonesia yang berdiaspora dari daratan Tiongkok. Dari sini mereka kemudian menyebar ke pulau-pulau lain di Tanah Air, Selandia Baru hingga Madagaskar. Di dalamnya terdapat peninggalan prasejarah yang kini diusulkan sebagai world heritage site ke Unesco.

Menurut Taufiq Hidayat, Karst & Wehea Protected Area Manager, untuk menjangkau kampung ini,  dari kota Tanjung Redeb dapat ditempuh dengan kendaraan roda 4 four wheel drive, dengan waktu tempuh 3,5 jam lewat kampung muara lesan.

Dari Tanjung Redeb mengikut jalan  poros berau – samarinda, sebelum sampai kecamatan kelay belok kiri mengikuti jalan yang menuju kampung muara lesan .  Kemudian menyeberang sungai kelay dengan ferry rakyat, dan dari kampung muara lesan menuju kampung merabu perlu waktu 30 menit.

"Jarak Merabu ke Tanjung Redeb  sebenarnya hanya sekitar 110 km," kata Taufiq. (bin)

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved