Selasa, 2 Juni 2026

Destinasi

Sentakan Ombak di Pantai Kokka Berpasir Putih nan Lembut

Alamnya telah menyajikan keindahan yang lengkap. Pada satu sisi, ombaknya cukup kuat menyentak. Lokasi itu cocok untuk berselancar.

Tayang:
KOMPAS/DANU KUSWORO
Wisatawan mancanegara menikmati keindahan dan kesunyian Pantai Koka di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, 4 Agustus 2016. Pantai ini merupakan salah satu wisata unggulan yang ditawarkan di Sikka, selain kekayaan budaya dan keunikan masyarakatnya. 

”Saya akan masukkan hasil foto ini ke Facebook biar teman-teman bisa melihat keindahannya, dan mungkin mereka akan tertarik berkunjung,” katanya.

Pantai Koka merupakan salah satu pantai terindah di pesisir selatan Pulau Flores. Pantai ini menjadi salah satu tujuan utama wisata bagi para penjelajah ”pulau bunga” itu.

Dari ujung barat pulau, Labuan Bajo, wisatawan dapat menikmati pulau-pulau kecil berpenghuni satwa komodo. Dari sana, perjalanan dapat berlanjut ke Kampung Adat Bena, kota bersejarah Ende, dan danau tiga warna Kelimutu, baru singgah di Koka.

Selanjutnya, wisatawan dapat terus menyusur ke timur, menikmati kehidupan di desa-desa penghasil kain tenun di Sikka hingga mencapai kota pantai nan permai, Larantuka.

Pantai Koka berjarak 48 kilometer dari Maumere, ibu kota Sikka. Dari Ende, ibu kota Kabupaten Ende, pantai ini berjarak 97 kilometer. Letak pantai itu agak tersembunyi karena menjorok sekitar 1 kilometer dari jalan Trans-Selatan Maumere-Ende. Kondisi jalannya juga masih sangat buruk.

Sejumlah peserta Jelajah Sepeda Flores-Timor yang singgah ke pantai itu, pertengahan Agustus lalu, mengeluhkan buruknya jalan menyulitkan sepeda mereka melintas. Tak awas sedikit saja, ban sepeda dapat pecah terkena batu.

Baca: Flores Diselimuti Abu Vulkanik Gunung Rokatenda

Tibortius Tibo, Sekretaris Desa Wolowiro, menuturkan, telah bertahun-tahun kondisi jalan itu rusak. Pembangunannya terkendala masalah lahan. Warga setempat belum rela menyerahkan tanahnya untuk dijadikan jalan umum. Pendekatan yang diupayakan Pemerintah Kabupaten Sikka belum membuahkan hasil.

Tibo juga mengeluhkan sulitnya melakukan pengelolaan terpadu di lokasi wisata ini. ”Semua orang mengklaim sebagai pemilik lahan. Pemerintah desa tidak mampu menghadapi. Jika tingkat kesadaran seperti ini, sampai kapan pun kami tidak bisa maju,” katanya.

Pemkab setempat juga seolah membiarkan pengelolaan kawasan itu tanpa satu kendali. Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Pantai Koka mula-mula akan melewati ”pos” yang dijaga sejumlah pemuda.

Mereka memungut bayaran Rp 20.000 sebagai retribusi. Namun, si penarik uang tidak memberikan karcis sebagai bukti retribusi. Selesai dari pos pertama, beberapa puluh meter kemudian ada pungutan lagi, Rp 10.000 per kendaraan.

Banyak pengunjung sebetulnya keberatan dengan pungutan berlapis. Apalagi, tanpa karcis sehingga terkesan pungutan liar.

”Belum masuk pantai saja, wisatawan sudah dipungut ini dan itu. Wisatawan jadi tidak nyaman lagi,” ujar Margie, wisatawan asal Perancis, yang telah puluhan tahun menetap di Bali.

Sejumlah warga secara swadaya menyediakan kamar mandi dan kamar kecil. Wisatawan yang menggunakan fasilitas tersebut dipungut Rp 6.000 per orang. Untuk naik ke bukit karang, ada pula pungutannya, Rp 5.000 per orang.

Pengelolaan Pantai Koka memerlukan banyak perbaikan. Jangan sampai pesona alamnya tergulung oleh ketidaknyamanan jasa wisata. (Kornelis Kewa Ama/Frans Pati Herin/Irma Tambunan)

*****
Baca berita unik, menarik, eksklusif dan lengkap di Harian Pagi TRIBUN KALTIM
Perbarui informasi terkini, klik  www.TribunKaltim.co
Dan bergabunglah dengan medsos:
Join BBM Channel - PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co,  follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim
Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved