Kolom Rehat

Sumber Segala Kejahatan

Dulu untuk uang saya hanya mengenal kata 'perak'. Uang jajan saya waktu SD, 15 perak. Harga permen lima biji, 5 perak. Harga buku tulis 50 perak.

Editor: Syaiful Syafar
TRIBUN KALTIM
Arif Er Rachman 

oleh ARIF ER RACHMAN

Tiada orang yang tak suka
Pada yang bernama rupiah
Semua orang mencarinya
Di mana rupiah berada
...

WAKTU kecil, saya sering mendengar Om saya menyanyikan lagu itu. Waktu saya bertanya siapa itu Rupiah. Om saya hanya tertawa dan tidak menjawab.

Ibu saya yang kebetulan lewat yang menjawab. "Rupiah itu Rapeah, yang ditaksir Om kamu," kata ibu saya sambil tertawa. Om saya juga ikut tertawa.

Saya diam saja. Saya tahu anak gadis tetangga namanya Rapeah. Hingga beberapa lama, saya masih memercayai bahwa Rupiah itu adalah Rapeah. Setiap mendengar lagu itu, yang ada di benak saya adalah gadis manis anak tetangga itu.

Setelah sekolah dan bisa membaca baru saya menyadari bahwa Rupiah itu adalah nama mata uang kita.

Dulu untuk uang saya hanya mengenal kata 'perak'. Uang jajan saya waktu SD, 15 perak. Harga permen lima biji, 5 perak. Harga buku tulis 50 perak.

Setelah dewasa saya baru tahu bahwa kata 'rupiah' diambil dari kata dalam bahasa Mongolia, 'rupia', yang berarti perak. Ada juga yang menyebutkan rupiah meniru mata uang India, rupee.

Oh ya, saya membicarakan rupiah karena hari ini, 30 Oktober, kebetulan merupakan Hari Uang Nasioanal Indonesia. Jika dirunut dari sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, uang juga merupakan bagian dari pernyataan untuk merdeka dan berdaulat penuh sebagai bangsa.

Pada malam itu, tanggal 29 Oktober 1946, Muhammad Hatta selaku wakil Presiden berpidato melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta.

"Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah suatu hari yang mengandung sejarah bagi Tanah Air kita. Rakyat kita menghadap penghidupan baru. Besok mulai beredar Uang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagi uang yang sah, tidak laku lagi. Beserta dengan uang Jepang itu ikut pula tidak berlaku uang De Javasche Bank. Dengan ini tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Sejak mulai besok kita akan berbelanja dengan uang kita sendiri, uang yang dikeluarkan oleh Republik kita," ujar Bung Hatta.

Esok harinya, 30 Oktober 1946, mata uang rupiah mulai berlaku, dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen (0,01 rupiah).

Uang yang beredar pada periode 30 Oktober 1946 ini disebut sebagai ORI (Oeang Republik Indonesia) yang dicetak di percetakan G Kolff Jakarta dan Nederlands Indische Mataaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) Malang.

Bisa dibayangkan betapa bangganya seluruh rakyat Indonesia yang baru merdeka dari penjajah setelah menerima ORI di tangan mereka. Karena, selain sebagai alat tukar, mata uang merupakan salah satu lambang suatu negara dan juga bisa menjadi alat untuk memperkenalkan diri kepada seluruh dunia.

Saya pikir, sebagai warga negara yang cinta Tanah Air, ada baiknya juga kita mengetahui sejarah tentang ORI ini.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved