Sabtu, 11 April 2026

Destinasi

Meski Mahal, Liburan ke Raja Ampat tak akan Bikin Anda Menyesal

Berkembangnya wisata Raja Ampat melahirkan ragam pilihan tempat menginap bagi wisatawan. Harganya pun bervariatif.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA
Warga desa Sawinggrai, di Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (11/5/2016). 

TRIBUNKALTIM.CO -- Derap langkah cepat ribuan manusia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengiringi gerak rembulan yang tepat berada di ubun-ubun. Dari layar gawai, waktu menunjukan pukul 24.00 WIB.

Rasa kantuk berebut tempat dengan adrenalin yang terus memuncak jelang keberangkatan saya ke Raja Ampat, Papua Barat. Iya, Raja Ampat, daerah bahari yang banyak diimpikan orang untuk dikunjungi.

Saya beruntung lantaran tugas pekerjaan mengantarkan saya ke kabupaten seribu pulau itu pada pekan lalu.

Sekitar pukul 01.00 WIB, saya bergegas menuju pesawat. Rute perjalanan yang saya tempuh yakni Jakarta-Manado dan Manado-Raja Ampat.

Dari Soekarno-Hatta, saya terbang menggunakan maskapai Batik Air menuju Manado, Sulawesi Utara. Perjalanan menuju Manado memakan waktu sekitar 3 jam. Setelah rehat sejenak di Bandara Sam Ratulangi Manado, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan maskapai Wings Air.

Dermaga Sawinggrai, di Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (11/5/2016).
Dermaga Sawinggrai, di Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (11/5/2016). (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA )

Rute penerbangan Manado-Raja Ampat memang baru dibuka pada awal tahun 2017 untuk memangkas waktu tempuh perjalanan bagi para pelancong. Manado-Raja Ampat ditempuh dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam. 

Jika menilik biaya perjalanan jalur udara, rute Jakarta-Manado dengan Batik Air menyedot kocek sekitar Rp 1,3 juta.

Sementara Manado-Raja Ampat dibanderol sekitar Rp 800.000. Harga itu tentu bisa berubah di waktu tertentu.

Rasa lelah selama perjalanan terbayar sewaktu pesawat Wings Air hendak mendarat di Bandara Marinda, Kabupaten Raja Ampat. Gugusan pulau-pulau kecil meretas mata dari bayangan kantuk.

Gradasi warna biru tua dan hijau yang menandakan perbedaan kedalaman laut menjadi tanda perairan wilayah Raja Ampat masih 'perawan' dan jauh dari eksplorasi berlebih.

Wisatawan menikmati pemandangan gugusan pulau karst dari Bukit Piaynemo, Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Senin (31/11/2016).
Wisatawan menikmati pemandangan gugusan pulau karst dari Bukit Piaynemo, Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Senin (31/11/2016). (KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo )

Dari Bandara Marinda, saya dijemput oleh Udin, pria 30 tahun yang berprofesi sebagai sopir rental mobil. Terbatasnya moda transportasi umum di Raja Ampat memang membuka peluang bisnis bagi pengusaha rental kendaraan. 

Udin menyapa dengan ramah, senyumnya merekah. Pria kelahiran Lampung itu bergegas membawa barang bawaan.

Ia mengantarkan saya beserta rombongan menuju Hotel Maris Risen yang berlokasi di pusat aktivitas penduduk Raja Ampat, Waisai.

Berkembangnya wisata Raja Ampat melahirkan ragam pilihan tempat menginap bagi wisatawan. Harganya pun bervariatif.

Hotel Maris Resen cukup nyaman ditempati dengan fasilitas dua tempat tidur dan kamar mandi. Per malam dihargai sekitar Rp 450.000.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved