Selasa, 2 Juni 2026

Selain Demi Gengsi, Balap Liar Ternyata Jadi Ajang Taruhan hingga Puluhan Juta Rupiah

"Kami adu gengsi. Motor atau pembalap mana yang paling keren dan laju pasti disegani di kalangan anak motor," ujar Jhon.

Tayang:
TRIBUNTIMUR/SANOVRA JR
Sejumlah remaja terlibat dalam aksi balap liar di jalanan di Makassar. Kegiatan semacam ini jamak dilakukan di berbagai kota, termasuk di Samarinda dan Balikpapan. Terlebih setiap usai waktu sahur. Tidakjarang mereka melakukannya dengan taruhan. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Jhon (bukan nama sebenarnya) pernah menjadi anak motor atau istilahnya 'amor'. Bahkan sejak masih duduk di bangku SMP, Jhon sudah mulai mengikuti aksi balap liar. Saat itu, dia ingin mencoba rasanya memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi, namun lama kelamaan menjadi keasyikan.

"Awalnya coba-coba, lama-lama asyik dan seru. Adrenalin terpacu saat melakukan aksi balap liar," kata Jhon ditemui Tribun di rumahnya, Senin (5/6) kemarin.

Anak motor atau anak racing menjadi semacam identitas baru yang keren bagi anak seusianya. Bagi dirinya, dunia balap di lingkungan 'amor' tidak melulu bicara kecepatan dan skill.

"Kami adu gengsi. Motor atau pembalap mana yang paling keren dan laju pasti disegani di kalangan anak motor," ujar Jhon.

Gengsi sesama pembalap, dan komunitas ini yang mendorong banyak pebalap liar berani merogok kocek dalam-dalam untuk memodifikasi tunggangannya agar serasa motor balap.

Menurut dia, untuk kategori motor 2 tak, setidaknya dibutuhkan Rp 500.000 hanya untuk oprek mesin. Motor 4 tak, biaya yang dikeluarkan bisa Rp 5 juta hingga Rp 20 juta untuk kategori balap jalanan.

Jhon sendiri melakoni balap liar mulai kelas 2 SMP sampai lulus SMK. Dia mengikuti aksi balap liar di jalanan kota. Belakangan juga ikut drag race (balapan jalan lurus).

"Saya lumayan terkenal di kalangan anak motor Balikpapan era tiga tahun terakhir ini. Sebagai pebalap dengan postur tubuh gempal, saya paling jago di tikungan," ungkapnya.

Di jamannya, Jhon sering ikut aksi balap motor liar dengan taruhan sejumlah uang. Namun, karena tidak punya uang, dia hanya ditunjuk sebagai joki (pembalap). Motor yang dipakai pun terkadang bukan motor sendiri, tetapi motor yang sudah disiapkan oleh timnya.

"Dua tahun lalu, taruhannya sekitar Rp 150 ribu- Rp 200 ribu, tapi sekarang paling kecil sudah Rp 1 juta hingga Rp 2 juta sekali main," kata Jhon yang saat ini berusia 20 tahun.

Pernah suatu momen, ada adu balap motor dengan taruhan mencapai puluhan juta. Pebalapnya memang jago-jago di Balikpapan.

Menurut dia, mayoritas pebalap liar berusia 14-25 tahun. Bagi pebalap usia di atas 25 tahun biasanya memilih 'pensiun'. Termasuk dirinya yang sudah tidak lagi ikut balapan liar. Jhon sekarang lebih banyak ikut nonton, dan mendalami ilmu mesin.

"Ada juga yang tobat sama sekali, biasanya sudah patah-patah tulangnya, karena kecelakaan balap liar atau punya keluarga," tambah Jhon.

Sebagai mantan pebalap liar, dirinya lebih memilih mendalami ilmu permesinan. Impianya ingin menjadi mekanik handal sekaligus pemilik tim balap resmi yang mengarahkan anak-anak muda menjadi pebalap profesional.

Ayah dan ibu Jhon pun mengaku senang, anaknya tidak lagi ikut-ikutan jadi joki balap liar di Kota Balikpapan. Ditemui di rumahnya, kawasan Gunung Sari Ilir, sang ibu mengaku sempat heran saat tahu anaknya bisa mengendarai sepeda motor di usia 11 tahun. "Ngga tahu juga siapa yang ngajarin," kata Lastri.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved