Singapura yang Terkenal dengan Wisata Belanjanya Itu Kini Mulai Sepi, Bisakah Bertahan?
Singapura terkenal sebagai surga belanja, tak terkecuali bagi warga Indonesia. Namun, pesona itu memudar seiring lesunya kondisi ekonomi.
JLL mencatat, penempatan ruang F&B di mal Singapura mencapai lebih dari 30 persen, lebih besar dari Hongkong (23 persen) atau negara-negara Eropa (10-15 persen).
Pusat makanan
Salah satu operator mal Singapura, M&G Real Estate akan membuka kembali Compass One Mall pada September mendatang dengan 33 persen ruang untuk gerai F&B.
Luas itu meningkat dari angka 20 persen sebelum renovasi.
AsiaMalls juga menambahkan lebih banyak restoran pada proses renovasi Tiong Bahru Plaza dan White Sands, sementara Grup Sim Lian mengalokasikan area F&B sekitar 30 persen saat membuka Hillion Mall pada Februari lalu.

"Secara regional, negara lain pasti akan melihat langkah perubahan Singapura dan bisa juga mereka menjadikannya sebagai referensi," kata Diane Aw, Kepala Layanan Ritel di konsultan properti Colliers International.
Alokasi lebih banyak bagi F&B membuat daya tawar pelaku bisnis sektor tersebut meningkat.
"Mal telah menyediakan lebih banyak ruang untuk negosiasi dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Kami dapat melakukan kesepakatan lebih baik sehubungan dengan sewa," kata Vincent Tan, Managing Director Select Group, pengelola restoran Peach Garden dan Texas Chicken.
F&B hanyalah sebuah cara untuk melawan penurunan. Hal lain yang dapat dilakukan peritel adalah menggenjot program loyalitas pelanggan dan juga pemanfaatan teknologi.
"Mal tak akan pernah mencapai 100 persen untuk F&B. Tidak ada yang mau pergi ke food court (pujasera) raksasa," tegas Christopher Tang, Chief Executive Officer Frasers Centrepoint Ltd. (Kompas.com/Haris Prahara)