Sabtu, 18 April 2026

Ini Penyebab Matinya Lumba-lumba di Pantai Melawai Menurut DLH

Ia menjelaskan, lumba-lumba sangat bergantung pada sonar yang ada di tubuhnya.

Penulis: Budi Susilo |
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Ilustrasi - Kartun selamatkan lumba-lumba dari ancaman kepunahan 

Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan yang melibatkan juga dari lembaga Badan Konservasi Sumber Daya Alam dan Polair Balikpapan serta Balikpapan Wild Education Center menyimpulkan kematian lumba-lumba tidak secara sendirinya.

"Kami menduga lumba-lumba mengalami keracunan," tutur Hery, yang berdinas di Dinas Perikanan Balikpapan ini.

Namun tambahnya, kesimpulan keracunan hanya dilakukan secara kasat mata saja, sebagai kesimpulan di lapangan bukan melalui kajian penelitian dari dokter hewan atau operasi nekropsi.

"Kesimpulannya belum benar-benar akurat. Kami melihatnya kena racun. Tidak mungkin lumba lumba mati begitu saja," katanya.

Ia menjelaskan, mamalia yang mati di pinggir pantai itu adalah jenis Lumba-lumba Tanpa Sirip Punggung.

Masyarakat internasional mengenalnya sebagai Finless Porpoise atau bahasa ilmiahnya Neophocaena phocaenoides.

"Ada laporan. Kami meluncur bersama teman-teman. Kejadian Selasa sore, 22 Agustus, pas mau waktu maghrib," ujar Hery.

Saat diperiksa, lumba-lumba tersebut kemungkinan sudah berusia cukup dewasa.

Mati secara mengenaskan, tergeletak tak berdaya di pinggir pantai, daratan pasir pantai.

Spesifikasi fisik lumba-lumba memiliki panjang tubuh 133 centimeter.

Sementara lebar badannya 80 centimeter dan diameter pada bagian kepalanya 50 centimeter.

Karena sudah tidak bisa diselamatkan, ujar dia, akhirnya lumba-lumba segera dikuburkan di Pantai Banua Patra dalam kondisi cuaca rintik hujan.

"Kami lakukan penguburan sekitar jam 9 malam. Kami kuburkan supaya tidak menimbulkan bau. Nanti kalau jadi bangkai membusuk, akan menjadi limbah bau," ungkap pria yang kini menjabat Koordinator TPI Manggar ini.

Ditambahkan, Husain Suwarno Koordinator Forum Teluk Balikpapan, menegaskan, Lumba-lumba Tanpa Sirip Punggung atau Neophocaena phocaenoides masuk kategori mamalia laut yang dilindungi negara.

Keberadaan populasinya semakin menurun, diperkirakan hanya puluhan individu yang sekarang sudah sangat sulit ditemukan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved