Sampah Termanfaatkan, Masyarakat Sekitar TPA Terbantu Bahan Bakar Memasak, Gratis Lagi. . .
Lokasi yang cukup spesial, lantaran di kawasan ini ada fasilitas yang dinikmati warga dari keberadaan TPA Manggar tersebut.
Namun, sayangnya jaringan gas dan tungku kompor yang telah diberikan secara cuma-cuma oleh pihak Pemerinta tersebut berada di luar rumah warga dan belum masuk ke dalam dapur.
Kendati demikian, warga mengaku cukup terbantu dengan adanya bantuan gas metan gratis tersebut.
Untuk mengakali kendala jaringan gas yang berada di luar, adapula warga yang telah memodifikasi dapur mereka agar bisa memanfaatkan gas metana.
"Lebih hemat, dulu saya bisa habis sampai tiga tabung gas 3 kg sebulan.
Berkat ada gas metan saya nggak harus beli gas perbulan. Ada satu tabung gas di dapur bisa bertahan sampai dua bulan baru habis," kata Namriyah.
Baca: Saatnya Kaltim Beralih dari BBM ke Sumber Energi Alternatif
Gas metan dari hasil pengolahan sampah ini disalurkan ke masyarakat secara gratis.
Bahkan warga tak dipungut uang sepeser pun untuk perawatan saluran pipa paralon.
Sedangkan dari kualitas api, Namriyah menyebutkan api gas metan tidak terlihat dan terkadang terlihat berwarna biru.
Baca: Samarinda Bangun Stasiun Pemanfaatan Gas Metana
"Untuk menyalakan kompor harus dipancing pakai korek api dulu.
Kalau dinyalakan apinya memang tidak kelihatan, tapi itu sudah menyala. Kalau malam biasanya baru kelihatan jelas warna biru," ungkapnya.
Di luar dari itu kualitas api dari gas metana ini tak kalah dengan gas elpiji serta mampu meringankan beban ekonomi warga yang tinggal di daerah sekitar TPA Manggar.
Potensi Energi Alternatif Terbarukan
TPA Manggar memiliki luas total sebesar 49,89 hektare yang terdiri dari delapan zona.
Berdasarkan data terakhir bulan Agustus 2017, UPTD TPA Manggar mendapat kiriman sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Balikpapan tercatat sebanyak 347 ton per hari.
Sementara itu volume sampah yang masuk ke UPTD TPA Manggar tahun 2016 lalu mencapai 130.671,63 Ton.
UPTD TPA Sampah Manggar telah memanfaatkan timbunan sampah sebagai sumber energi sejak 17 November 2012 lalu.
Menurut Tonny Hartono, Kepala UPT Pemrosesan Akhir Sampah Manggar mengungkapkan daripada gas metan terbuang sia-sia dan justru merusak lingkungan, pihaknya telah memanfaatkannya untuk menghasilkan energi terbarukan.
Baca: Bupati Berau: Masih Banyak Energi Alternatif Dibanding Nuklir
Untuk menghasilkan gas metan, tumpukan sampah organik tersebut terlebih dahulu dipilih dan ditata dengan teknik Control Landfill Terasering.
"Control Landfill Terasering adalah penataaan sampah dengan cara berlapis antara sampah lalu tanah.
Dua meter sampah ditumpuk lagi dengan tanah 2 meter, begitu seterusnya dengan berbentuk piramida hingga puncak ketinggian tertentu," ungkapnya.
Setelah itu Tonny menyebutkan tumpukan sampah tersebut akan dibiarkan selama 3-4 bulan untuk proses pembusukan atau fermentasi oleh aktivitas mikroba setelah adanya air hujan yang masuk ke dalam tumpukan sampah secara alami.

Baca: Satu Sampan dengan Walikota Punguti Sampah di Kawasan Mangrove, Begini Pengakuan Dandim
Timbunan sampah tadi nantinya akan menghasilkan gas metan yang menjadi sumber energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan.
Sebelum bisa digunakan, usai proses pembusukan tersebut akan menghasilkan gas, limbah cair atau biasa disebut air lindi dan limbah padat.
Hasil dari proses pembusukan sampah tadi akan ditangkap melalui Instalasi Pipa Air Limbah (IPAL) paralon berukuran besar dan dikumpulkan di kolam IPAL.

Pipa-pipa tersebut sebelumnya telah ditanam dalam timbunan sampah yang telah ditata dengan teknik control landfill terasering.
Persis berada di depan pengolahan energi listrik gas metan TPA Manggar, tepatnya di dekat penumpukan sampah zona 2 terdapat tabung pemilah.
"Gas metan yang mendominasi komposisi gas yang dihasilkan dari proses pembusukan tadi.
Selanjutnya dimurnikan melalui tabung pemilah hingga gas yang dihasilkan merupakan murni gas metan yang telah terpisah dari limbah padat dan cair," ujarnya.
Berdasarkan pengamatan TribunKaltim.co saat mendekati tabung pemilah, ketika sedang beroperasi tabung tersebut menghasilkan sedikit suara gemuruh antara gas dan cairan.

Baca: Pupuk Indonesia Pilih Balikpapan jadi Kota Percontohan Pengolahan Pupuk Organik di Indonesia