Senin, 20 April 2026

20 Anak Millenial Balikpapan Kena Korban Medsos

penggunaan teknologi informasi melalui smartphone bisa memiliki dua kemungkinan, membawa dampak positif juga memicu dampak negatif.

Penulis: Budi Susilo | Editor: Januar Alamijaya
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi berdialog bersama pelajar-pelajar di acara seminar Perlindungan Anak di gedung auditorium Wali Kota, Jalan Jenderal Sudirman, Kamis (9/11/2017) 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co Budi Susilo

TRIBUNKALTIM.CO BALIKPAPAN - Tantangan zaman generasi muda semakin kompleks. Godaan yang berujung pada tindakan negatif selalui menghantui setiap saat terutama dalam penggunaan tekonologi komunikasi yang digandrungi kaum millenial.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, menjelaskan, penggunaan teknologi informasi melalui smartphone bisa memiliki dua kemungkinan, membawa dampak positif juga memicu dampak negatif.

"Dampak teknologi yang negatif yang harus kita hindari," tegasnya saat memberikan sambutan dalam acara seminar Perlindungan Anak di gedung Wali Kota, Kamis (9/11/2017).

Baca: Air PDAM Lama Tak Mengalir, Bupati Ikutan Tak Mandi

Fakta dilapangan, banyak terjadi kaganjilan, memunculkan tindakan asusila. Seperti halnya kehamilan di luar nikah atau sex bebas, pengaruh narkoba yang membahayakan.

"Cara-caranya semakin masif. Gejala sex bebas penyimpangan di kalangan belia. Ini tidak terlepas juga dampak teknologi," tuturnya.

Baca: Pacaran dengan Pemuda Ganteng Banget di Facebook, Begitu Ketemu Gadis Ini Malah Alami Nasib Nahas

Sampai sejauh ini telah ada korbannya. Rizal mendapat laporan, sudah ada 20 anak dari Balikpapan menjadi mangsa media sosial (medsos), sebagai korban pelecehan seksual, terkena tipu tindakan asusila melalui media sosial.

"Sekarang sedang diproses di Polda Kaltim. Sedang dicari pelaku-pelakunya. Ironisnya korban paling banyak anak millenial yang semestinya harus tahu cara yang benar memanfaatkan teknologi media sosial," ungkapnya.

Modusnya beragam, satu caranya berkenalan sama akun media sosial yang belum jelas identitasnya dengan trik yang menggiurkan.

Saat sudah terhipnotis, korban terjebak, seakan terhipnotis mau rela melakukan apa saja seperti halnya bertindak visual pornografi.

"Buat yang sudah jadi korban tidak perlu dikucilkan. Beri motivasi. Jangan dibully, harusnya perlu kita bantu. Jangan kita cap buruk sekolahnya atau organisasinya. Kita lihat dia sebagai oknumnya saja," tuturnya.

Baca: Greget, Pasangan Suami Istri Ini Beli Motor Ninja Pakai Koin Recehan

Karena itu, tegas Rizal, kunci pertama untuk membentengi diri dari tindakan yang buruk adalah tameng agama dan isi waktu dengan aktivitas yang positif.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved