Museum Kodam Mulawarman Mengejar Kebutuhan Zaman
ruangan peraga benda bersejarah juga akan ditambah. Ruangan ada yang kosong, akan dimanfaatkan untuk arena pamer koleksi museum.
Penulis: Budi Susilo | Editor: Januar Alamijaya
Dimulai dari orang dewasa hingga anak-anak berjubel memadati museum yang bercat dominasi hijau dan putih ini. Pintu masuk ke museum pengunjung disuguhkan dua meriam peninggalan zaman perang dunia kedua buatan Inggris dan Australia.
Saat pengunjung membeludak, area parkir pun penuh kendaraan bermotor roda dua. Pengunjung datang menggunakan sepeda motor sedangkan mereka para murid pendidikan dasar memakai tiga unit bus ukuran sedang.
“Kali ini benar-benar penuh. Banyak sekali. Museum tidak muat semua. Harus dibagi-bagi ke dalam kelompok,” kata Djenal Lontolawa kepada Tribunkaltim.co yang saat itu mengenakan seragam pakaian dinas harian warna hijau.
Baca: Buruan, Ada Penerimaan Perwira Polisi Untuk Sarjana, Begini Caranya Mendaftarnya
Pengunjung pada kesempatan ini merupakan gabungan dari karyawan swasta Bank Mandiri yang berasal dari Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan dari Kabupaten Paser. Total yang datang sebanyak 280 anak.
Sementara para murid berasal dari Sekolah Dasar Negeri 014 Balikpapan Selatan. Jumlah murid yang datang sebanyak 120 anak. Saat Tribunkaltim.co bersua dengan Ketua Rombongan SD Negeri 014, Normalia, mengatakan, event sekolah dalam rangka outbound yang diikuti tiga kelas.
“Belajar di luar ruangan. Keliling ke tempat-tempat bernilai pendidikan. Kami gelar supaya anak-anak mengerti sejarah perkotaannya. Tahu akan jasa-jasa pahlawan. Cinta pada bangsa dan negaranya,” katanya.
Ia menjelaskan, program outbond dilangsungkan setahun sekali. Berharap memiliki makna bagi para anak didik. Informasi yang diperoleh di luar kelas akan memberi banyak manfaat, pengetahuan bertambah.
“Kami juga libatkan orangtua murid. Anak dan orangtua sama-sama datang ke museum. Jarang orang yang mau datang bermain di museum,” ungkapnya.
Bagi penyelenggara museum, Djenal mengaku, banyaknya pengunjung hingga mencapai ratusan orang membuat pihaknya merasa kewalahan. Daya tampung ruangan museum tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang membeludak.
Kata Djenal, biasanya paling banyak 50 orang namun bila sudah sampai ratusan lebih maka dengan permohonan maaf pengunjung dibagi dalam gelombang. “Tidak masuk serentak. Kami bagi-bagi dalam kelompok. Supaya tidak sumpek. Aksesnya bisa lancar. Maklum ruangannya terbatas,” tegasnya.
Mengubah Warna Meriam Hingga Membuat Tanggul
Keberadaan museum mesti bertahan mengikuti perkembangan zaman. Museum hadir untuk memberi segudang informasi peristiwa masa lalu yang sudah bergulir. Pesan dan pelajaran berguna terangkum dalam sebuah musem. Inilah yang ingin dihadirkan oleh Museum Kodam Mulawarman Kota Balikpapan, tetap bertahan meski sering diterjang rendaman banjir.
Waktu itu, matahari belum tepat di atas kepala, museum sudah dikunjungi murid dari taman kanak-kanak berseragam merah. Ramai sekali mendatangi dan memenuhi museum sejarah militer wilayah Kodam Mulawarman ini, Sabtu (15/12/2017).
Ruang-ruang yang tersedia disebuah museum tertata rapi. Pintu masuk museum disambut dua meriam warna hijau peninggalan kolonial tentara sekutu. Meriam bernama Saddle 25 ponder buatan Australia tahun 1942 dengan kaliber 90 milimeter. Satunya lagi meriam Saddle 6 Ponder buatan tahun 1942 dari negara Inggris dengan kaliber 70 milimeter.