Museum Kodam Mulawarman Mengejar Kebutuhan Zaman
ruangan peraga benda bersejarah juga akan ditambah. Ruangan ada yang kosong, akan dimanfaatkan untuk arena pamer koleksi museum.
Penulis: Budi Susilo | Editor: Januar Alamijaya
Meriam tersebut sekitar setahun yang lalu sempat dipamerkan ke masyarakat dengan tampilan warna bermotif loreng, campuran warna cat coklat, putih, hitam dan hijau. Namun tidak lama kemudian, diubah kembali ke hijau tua.
"Komandan kami yang perintahkan ke warna hijau kembali. Warna hijau sebagai warna asli. Kami benar-benar tampilkan warna aslinya, dahulunya zaman perang itu warna hijau," ungkap juru kunci museum Kodam Mulawarman, Sersan Mayor Masemun.
Koleksi yang disimpan museum ini beragam jenis. Ada bekas peninggalan zaman perang hingga koleksi barang-barang terkini seperti minuatur kapal KRI Fatahillah dan pesawat tempur TNI Angkatan Udara serta seragam tentara.
Peninggalan kuno itu di antaranya ada alat komunukasi berupa radio SSB SR 206 buatan Amerika Serikat tahun 1965. Radio ini pernah digunakan dalam Siskomwil dan operasi penumpasan yang bertajuk gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia.
Tidak hanya itu, ada juga Transmiter P 401 buatan Uni Soviet tahun 1959 yang difungsikan sebagai sistem komunikasi operasi yang pernah digunakan dalam operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) di Kalimantan Barat tahun 1962.
"Sampai sekarang alat komunikasi radio yang zaman dahulu masih dipakai. Cocok buat operasi perang militer. Soalnya tidak bisa disadap. Beda dengan alat komunikasi yang sekarang kita pakai, smartphone bisa disadap sama siapa saja," kata Masemun.
Secara organisasi, PGRS dan Paraku merupakan sayap bersenjata di bawah naungan North Kalimantan Communist Party (NKCP), sebuah partai politik komunis yang berlokasi di Sarawak, Malaysia. Munculnya organisasi ini dilatarbelakangi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dari tahun 1963 hingga 1966.
Selain alat komunikasi, juga ada alat musik ditiup yang biasa digunakan dalam pertunjukan marching band dan konser musik klasik. Alat ini diberinama Frenc Horn buatan Boosey dan Hawkes tahun 1964.
Alat musik logam ini tampilannya sudah sepuh, terlihat berkarat, warna sudah dominasi hitam. Dahulunya di tahun 1965 pernah dipakai dalam upacara serah terima jabatan Pangdam IX Mulawarman dari Brigjend Sumitro ke Brigjend Mung Parhadimulyo.
Pada bagian museum pun dibuat layar proyektur, sebagai ruang tontonan film. Biasanya film yang diputar seputar latihan-latihan prajurit TNI. Museum ini dahulunya adalah rumah yang pernah dihuni pejabat militer kolonial Belanda.
"Rumahnya buatan Belanda. Sudah bisa dikenal. Temboknya sangat tebal. Mungkin ketebalannya bisa sampai tiga kali dari rumah zaman sekarang. Saya lihat tidak ada yang retak- retak. Pondasinya masih kuat," tuturnya.
Hanya saja, kata Masemun, museum sudah tidak tahan mampu menahan laju air banjir masuk ke dalam ruangan. Seringkali, museum yang beralamat di Jalan Letjend Suprapto, Kelurahan Baru Tengah, Balikpapan Barat ini setiap hujan deras dengan intesitas lama bakal merendam jalan dan masuk ke museum.
"Sering kena banjir. Sudah tidak bisa lagi kehitung. Sampai-sampai kami kerepotan kalau sudah ada banjir, harus selamatkan barang-barang, ditaruh ke tempat tinggi supaya tidak kena rendaman air banjir," ujarnya.
Keberadaan rumah yang dijadikan museum itu sudah rendah, tidak lagi setinggi jalan raya. Dahulunya rumah setingkat jalan namun dari tahun ke tahun jalan diaspal dan kemudian meninggi, rumah pun kini jadi lebih rendah.
Banyak jalan menuju roma, museum pun akhirnya dibuat tanggul di bagian pintu masuk, sektiar 60 cenimeter lebih. Begitu mau masuk ke museum ini kita harus melangkah. "Dibuat tanggul tinggi supaya ada genangan air di luar tidak masuk ke museum," tegas Masemun.