Di HUT ke-51, SMA Patra Dharma Balikpapan Mampu Pertahankan Keunggulan, Raih Akreditasi A+
Fauzan bersyukur, di usianya yang menginjak setengah abad ini, sekolahnya bisa terus menjaga kualitas pendidikan.
Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Nalendro Priambodo
TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN - Peringatan HUT ke-51 Sekolah Menengah Atas (SMA) Patra Dharma Balikpapan berlangsung meriah.
Berbagai event yang dibungkus dengan tajuk SMARDA on Fire ini, tersaji selama kegiatan yang berlangsung selama 23-24 Februari ini.
Di antaranya, parade drumband, modern dance, musik akustik, dan tak ketinggalan turnamen basket yang diikuti 31 tim dari berbagai SMP yang memperebutkan hadiah berupa uang pembinaan, sertifikat, dan piala tingkat sekolah.
"Kita ingin anak muda Balikpapan bisa berkreasi dan melakukan kegiatan positif,"kata Katiam, Ketua Panitia acara, Sabtu (24/2/2018).
Baca juga:
Water Break Persiba Kontra Sriwijaya, Bangku Baru Stadion Batakan Akhirnya Diduduki Kali Pertama
Bertandang ke Kedubes Arab Saudi, Marko Simic Sebut Makanan Favorit Timur Tengah
Dua Rival di Pilgub Sudah Datang Jenguk Nusyirwan
Ditambahkan Fauzan Sadat, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, gelaran ini juga merupakan bagian upaya untuk mengenalkan pada masyarakat akan berbagai keunggulan yang dimiliki sekolah ini, utamanya bagi siswa SMP yang hendak melanjutkan ke jenjang SMA.
Lebih lanjut pria yang sudah mengajar selama 20 tahun ini, di usia sekolah swasta yang sudah menginjak setengah abad lebih ini, lembaga belajar dan mengajar ini telah mengalami banyak transformasi.
Baik di bidang fasilitas dan metode belajar, yang tidak hanya konsen di akademik, tapi juga pada pembentukan karakter beriman dan taqwa.
Sebagai contoh, di tahun ajaran 2016/2017, siswanya berhasil meraih prestasi sebagai lulusan terbaik tingkat Balikpapan dan dan kedua terbaik tingkat Kaltim.
Sedangkan untuk pembentukan karakter beriman dan bertaqwa (imtaq), setiap siswa/i diwajibkan berdoa di tempat ibadah, semisal mushola dan kapel selama selama 30 menit sebelum proses belajar mengajar.
Itu belum ditambah dengan kegiatan ekstra seperti studi alam bagi siswa kelas XII dengan cara hidup dan tinggal selatan 3 hari di perkampungan warga untuk merasakan sulitnya hidup, dan kegiatan lanjutan berjudul Struggle dengan tambahan outbound dan permainan lain yang melatih kepekaan pada lingkungan sekitar.