Ini yang Bikin Aparat Dilema soal Lapas yang Over Kapasitas

Faktanya saat ini, banyak warga binaan yang tersangkut kasus narkoba, justru menjadikan Lapas atau Rutan sebagai tempat belajar.

Penulis: Doan E Pardede |
TRIBUN KALTIM / CHRISTOPER DESMAWANGGA
Jumlah warga binaan di Rutan Klas IIA Sempaja sudah over-crowded, remisi pun menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah narapidana, Sabtu (20/8/2016). 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Doan Pardede

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Masalah penyalahgunaan narkoba di Kaltim yang semakin memprihatinkan kembali disuarakan dalam sebuah pertemuan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) di Rumah Jabatan Walikota Samarinda, baru-baru ini.

Dalam pertemuan ini, fungsi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) yang diharapkan bisa membuat para pengedar narkoba jera, menjadi dipertanyakan.

Faktanya saat ini, banyak warga binaan yang tersangkut kasus narkoba, justru menjadikan Lapas atau Rutan sebagai tempat belajar.

Baca: Gunakan ABG Jadi Eksekutor Pencurian Rumah, Komplotan Ini Dibekuk Polisi

Setelah menghabiskan masa hukumannya, pengedar ini justru lebih lihai dalam menjalankan aksinya. 

Informasi yang dihimpun Tribunkaltim.co, Rabu (14/3/2018), jumlah warga binaan yang ada di wilayah kerja Kanwil Kemenkumham, yakni Provinsi Kaltim dan Kaltara hampir mencapai 11 ribu orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 6 ribu di antaranya atau sekitar 65 persen tersangkut kasus narkoba.

Menurut Kepala Kanwil Kemenkumham Kaltim, Agus Saryono, masalah narkoba ini merupakan fenomena gunung es.

Kasus-kasus yang kelihatan saat ini hanyalah puncak atau gejala-gejala, sementara masalah yang paling fundamental atau akar masalah di bawahnya masih sangat banyak.

Jika dipersentasekan, yang ditangani (di puncak) ini hanya sekitar 13 persen - 15 persen dari seluruh permasalahan yang ada.

Baca: Tahun Ini Dirikan Taman Bacaan Masyarakat Mesti Berizin, Begini Syaratnya

Bahkan dia menyebut, jika fokus yang ditangani hanyalah yang 13 persen, aparat atau pihak-pihak terkait tak ubahnya pemadam kebakaran.

Jika hanya mengandalkan penindakan, yang ada, Lapas dan Rutan akan terus disesaki warga binaan dari kasus narkoba.

Penanganan masalah narkoba ini menurutnya sangat kompleks.

Selain penindakan, langkah pencegahan juga cukup atau bahkan sangat penting.

"Kalau penanganannya itu reaktif, efektifitasnya juga tidak ada. Penanganannya hanya seperti pemadam kebakaran saja. Bukan saya tidak setuju dengan penindakan. Penindakan perlu, ditindak saja seperti itu. Namun yang paling pas sebetulnya, pencegahan juga sangat diperlukan," ujarnya.

Pernyataan ini menurutnya bukan tanpa alasan.

Baca: Wow. . . Belum Habis Triwulan I 2018 Polda Kaltim Sudah Sita 13 Kg Sabu

Berdasarkan data, penyalahgunaan narkoba di Indonesia dari hari ke hari kian memprihatinkan, karena menduduki peringkat 3 di dunia.

Di Indonesia sendiri, penyalahgunaan narkoba di Kaltim sempat menduduki peringkat 2, dan turun ke peringkat 4 setelah provinsi Kaltara berpisah dan menjadi provinsi sendiri.

Upaya pemberantasan tanpa menyentuh akar permasalahan atau tanpa memaksimalkan langkah pencegahan, menurutnya hanya membuat pengguna atau pasar narkoba semakin besar. 

Di saat aparat gencar melakukan penindakan, yang ada Lapas dan Rutan semakin disesaki warga binaan yang tersangkut kasus narkoba.

Saat ini, kata dia, dari hampir 11 ribu orang warga binaan  yang tersebar di 11 di Lapas dan Rutan, sebanyak 6 ribu di antaranya tersangkut kasus narkoba.

"Dari hampir 11 ribu itu, 6 ribu di antaranya atau sekitar 65 persen adalah kasus narkoba," bebernya.

Pencegahan dari sisi pendekatan ekonomi juga menurutnya perlu menjadi perhatian.

Pasalnya, beberapa kasus narkoba yang terjadi sudah berbicara masalah pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca: Begini Kisah Cinta Stephen Hawking yang Diungkap dalam Film The Theory of Everything

Sebagian masyarakat sudah menjadikan narkoba sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Agus juga tak menampik bahwa Lapas dan Rutan belum sepenuhnya bebas narkoba.

Agus menyebut, ada saja anak buahnya terlibat dalam mata rantai peredaran narkoba, dan hingga saat ini sudah sebanyak 30 orang yang ditindak. Beberapa di antaranya sudah ada yang diberhentikan.

"Petugas kami di Lapas dan Rutan, sudah ada 30 yang terlibat. Jujur saja saya katakan," ujarnya.

Walau memang cukup sulit, dia memastikan bahwa upaya pembinaan dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) di Lapas dan Rutan terus dilakukan.

Sebagai gambaran, kata dia, jika ada warga binaan kasus narkoba yang divonis penjara (misalnya) selama 12 tahun, maka selama itu pula petugas harus berinteraksi.

Sebagai manusia biasa, petugas juga bisa menjadi akrab dan berteman dengan para warga binaan

Hal-hal seperti ini juga menurutnya menjadi tantangan tersendiri dalam upaya bersih-bersih narkoba di Lapas dan Rutan.

Belum lagi bicara bahwa  warga binaan saat ini, terutama kasus narkoba, korupsi, terorisme, ini juga memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik daripada para petugas Lapas dan Rutan.

Perbedaan tingkat kecerdasan ini juga bisa mempengaruhi petugas dalam menjalankan tugasnya.

"Kenapa kok lesu? Iya pak, anak saya mau sekolah nggak ada biayanya. Ya sudah daftarkan saja, saya yang bayar. Ini contoh kecil saja. Inilah pak permasalahan-permasalahannya," ujarnya menggambarkan interaksi antara petugas dan warga binaan.

Untuk mempersempit ruang gerak peredaran narkoba di dalam Lapas dan Rutan,  pihaknya juga intens melakukan razia.

Walau harus diakui, kata dia, untuk melaksanakan razia yang benar-benar steril dan tidak bocor, juga cukup sulit.

Namun pihaknya tetap berupaya agar razia ini efektif, dengan memberitahukan informasi ke orang-orang tertentu yang bisa dipercaya saja.

"Saat kami melakukan razia, kami tidak memberitahukan kepada siapapun, kecuali kepada pejabat yang bisa dipercaya. Sulit pak. Kalau uang, handphone bisa dapat sampai 40 buah. Tapi narkoba tidak bisa. Karena begitu kita masuk, mereka buang ke kloset, itu sudah nggak ada. Tapi nggak apa-apa. Paling tidak kami bisa mempersempit ruang gerak narkoba di dalam," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved