Rabu, 6 Mei 2026

Parenting

Marak Pengeboman di Indonesia, Bagaimana Menjelaskan Peristiwa Terorisme pada Anak?

Sebagai orangtua kita tentu harus melindungi anak dari dampak negatif pemberitaan tersebut.

Tayang:
John Howard
Ilustrasi anak memeluk ibu 

TRIBUNKALTIMCO -- Rentetan aksi terorisme yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tentu menimbulkan rasa cemas dan takut, termasuk pada anak yang tak luput dari paparan berita dari media.

Sebagai orangtua kita tentu harus melindungi anak dari dampak negatif pemberitaan tersebut.

Apalagi dalam beberapa hari ke depan masih banyak orang yang akan membahasnya.

“Anak memang tidak disarankan nonton berita langsung dari televisi, apalagi yang menampilkan grafis atau video aksi kekerasan,” kata psikolog Anastasia Satriyo M.Psi saat dihubungi Kompas.com (14/5/2018).

Ia mengatakan, paparan berita tersebut berdampak negatif pada otak dan juga mental.

Baca: Video Al Ghazali Tampak Mabuk Beredar, Begini Komentar Ahmad Dhani

Menurut Anastasia, yang menjadi masalah adalah jika kita sebagai orangtua sudah membatasi, tapi ada orang dewasa lain di rumah yang tidak memahami efek negatif pemberitaan aksi terorisme pada anak.

Meski anak belum sepenuhnya paham pada aksi terorisme, tapi berbagai informasi tersebut bisa membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Apalagi anak memandang lingkungan secara hitam putih. Bisa jadi mereka akan cemas dan takut.

“Ajak anak ngobrol, sebelum menjawab pertanyaannya, cari tahu dulu apa saja informasi yang sudah ia dengar dan bagaimana pemahamannya,” kata psikolog dari lembaga psikologi Tiga Generasi ini.

Baca: Kawasan Wonorejo Balikpapan Dilahap si Jago Merah

Anastasia menyarankan agar orangtua menjawab pertanyaan anak secara netral, sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

“Misalnya kalau anak bertanya alasan mengapa teroris melakukan aksinya, bisa kita jawab ‘karena mereka berpikir tindakan itu bisa membuat mereka mendapatkan apa yang diinginkan’, “ katanya.

Pada anak usia sekolah, kita bisa memberi penjelasan sesuai dengan pelajaran yang didapatnya di sekolah. Misalnya tentang persatuan, bela negara, dan sebagainya.

“Tekankan pada anak bahwa di dunia ini ada orang baik atau pun yang jahat, tapi bukan agamanya. Beri contoh konkret tentang perbuatan baik seseorang yang agamanya berbeda,” katanya.

Dalam memberi penjelasan pada anak usia balita, hindari penggunaan jargon yang sulit dipahami anak. Misalnya, alih-alih memakai kata “teroris” gunakan saja kata “pengebom”.

Baca: Pengepul Togel di Balikpapan Dibekuk Polisi, Omsetnya Rp 100 Juta per Bulan

Rasa nyaman Tularkan semangat tidak takut pada anak dengan menunjukkan rasa tenang.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved