Breaking News
Sabtu, 11 April 2026

Teknologi Makin Canggih, Begini Kisah Para Perukyat Menentukan Hilal

Meski dimudahkan teknologi, bukan berarti aktivitas rukyat tanpa halangan. Beberapa kendala dipengaruhi juga oleh alam.

TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HADI PRASETYO
Seorang undangan tim Rukiyatul hilal mencoba meneropong hilal menggunakan teropong Teodolite dari lantai 15 Menara Asmaul Husna Masjid Baitul Muttaqien Islami Center Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (24/6/ 2017) Kemenag Kaltim bersama tim menunggu keputusan Kementrian Agama RI karena hilal tak terlihat di kota Samarinda. 

TRIBUNKALTIM.CO - Dalam menentukan awal Ramadhan dan hari raya umat muslim lain di Indonesia, hal yang perlu dilakukan adalah melihat kemunculan hilal di langit.

Hilal adalah penampakan bulan sabit yang pertama kali setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi.

Hal ini dilakukan oleh para astronom dan perukyat di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Semakin berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi, tugas perukyat menjadi lebih mudah.

Muh. Ma'rufin Sudibyo dalam tulisannya di Kompas.com pada 2013 menyebut, hadirnya teleskop dengan penyangga otomatis untuk mengarahkan langsung ke posisi bulan dapat membantu aktivitas rukyat (pengamatan visibilitas hilal) lebih mudah.

Kehadiran teleskop tak lagi membuat para perukyat disibukkan dengan pengelolaan instrumen teknis yang detail, sehingga perukyat hanya fokus mengamati bidang langit yang disasar teleskop.

Meski dimudahkan teknologi, bukan berarti aktivitas rukyat tanpa halangan. Beberapa kendala dipengaruhi juga oleh alam.

Pertama, bulan yang tidak selalu berada dalam status hilal.

Sebagai catatan, dalam satu tahun Masehi terdapat 12 sampai 13 konjungsi, yang artinya rukyaat hilal bisa terselenggara 12 sampai 13 kali dalam setahun.

Kedua, hilal memiliki pasangan yang disebut hilal tua. Sebagai pasangan hilal, hilal tua memiliki bentuk yang mirip dengan hilal.

Seorang pegawai Badan Hisab dan Rukyat Sumsel melakukan pengamatan hilal dari atas Hotel Aryaduta Palembang.  (TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO)
Seorang pegawai Badan Hisab dan Rukyat Sumsel melakukan pengamatan hilal dari atas Hotel Aryaduta Palembang. (TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO) (TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO)

Hanya saja, ia terbit di pagi hari jelang matahari terbit sebelum konjungsi. Hilal tua ini tidak berimplikasi pada hukum syar'i sebagaimana hilal, namun dalam dunia astronomis sama pentingnya.

Jika hilal tua diperhitungkan, maka dalam setahun idealnya rukyat dapat terselenggara 24 hingga 26 kali. Bagi negara seperti Indonesia dengan musim hujan selama empat bulan dalam setahun, maka jumlah itu hanya tinggal 16 sampai 17 rukyat per tahun.

Saat terjadi anomali cuaca yang menyebabkan kemarau bersifat basah, jumlah rukyat otomatis akan berkurang.

Menurut Ma'rufin, satu-satunya cara untuk mengatasi kendala alamiah itu adalah dengan menyebar titik-titik rukyat hilal ke segenap penjuru, tak hanya bertumpu pada satu titik. 

Upaya memperoleh data rukyat hilal yang sahih Banyaknya kendala tak menghalangi para perukyat dari Indonesia dan mancanegara untuk memperoleh data rukyat hilal yang sahih dan dapat dipercaya.

Di Indonesia, upaya ini salah satunya dilakukan oleh jejaring RHI, yang bernaung di bawah Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved