Minggu, 12 April 2026

Catatan Harian Fatmawati Istri Bung Karno, Kisah Asmara hingga Mimpi Bendera Merah Putih

Buku Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno yang ditulis oleh Fatmawati, diterbitkan oleh Sinar Harapan

IndoCropCircles.worldpress.com
Foto Soekarno (Bung Karno) dan Fatmawati 

Catatan Harian Fatmawati Istri Bung Karno, Kisah Asmara hingga Mimpi Bendera Merah Putih

TRIBUNKALTIM.CO - Tulisan berikut ini dicukil dari Buku Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno yang ditulis oleh Fatmawati, diterbitkan oleh Sinar Harapan, 1983.

Cukilan bukunya pernah dimuat di Majalah HAI edisi 20-IX-1985, dengan judul asli Pengalaman Otentik dari Istana Negara.

Hingga kini, memang belum banyak kita temukan buku yang berbentuk otobiografi tokoh wanita.

Buku biografi para pejuang wanita memang ada kita temukan, tetapi khusus mengenai otobiografi benar-benar sangat langka.

Buku Fatmawati Ini termasuk yang menarik perhatian, karena ia merupakan otobiografi, kenang-kenangan beliau semenjak kanak-kanak hingga memasuki Istana Negara di Jakarta, dan kemudian keluar dari Istana atas suatu prinsip yang dianutnya.

Dan itu semua dicatatnya dalam bentuk tulisan yang bisa kita telusuri seperti kita menyusuri sebuah bentangan jalan.

Hampir dapat dipastikan bahwa bagi masyarakat kita yang telah berusia sekitar 20 tahun kini telah mengenai Fatmawati Ibu Negara Rl (Pertama).

Beliau dilahirkan di Bengkulu pada hari Senin, 5 Februari 1923, puteri pertama Hassan Din. Ibunya Siti Chadijah. Mereka hidup secara sederhana di kota Bengkulu, yang waktu itu merupakan karesidenan daiam kawasan Sumatera Selatan.

Sebagai karyawan Borsumny (Borney — Sumatra Ulaatschapy) memang kehidupan keluarga ini tidaklah kekurangan, tetapi jelas mereka bukanlah keluarga berada. Tetapi Hassan Din sendiri adalah orang yang terpandang di Bengkulu karena ia tokoh pergerakan Muhammadiyah.

Sebenarnya sejak kecil itu, Ibu Fatmawati telah diramalkan (saat itu usianya 4 tahun, tahun 1927), bahwa ia akan menjadi seorang istri orang besar Indonesia, walau mereka sendiri tidak percaya.

Ternyata benar, sebab saat pembuangan Bung Karno, di mana pada akhirnya Fatmawati dititipkan untuk tinggal dengan keluarga Bung Karno ke Bengkulu pula, Bung Karno mempunyai anak angkat yang sebaya dengan Bu Fat, yaitu Ratna Djuwani (yang kemudian menjadi istri Asmara Hadi).

Dari sini berkembanglah cinta antara Bu Fatmawati dengan Bung Karno, walaupun saat itu Bung Karno telah menikah dengan Bu Inggit Garnasih. Tetapi karena Bu Inggit tidak punya anak, merupakan alasan yang tepat bagi Bung Karno untuk mengambil seorang istri lagi, dan pilihannya jatuh pada Bu Fat, yang waktu itu masih berusia 18 tahun.

Dan dalam buku Ku Antar ke Gerbang susunan Ramadhan KH, Ibu Inggit menceritakan perasaannya saat mengetahui hubungan Bung Karno dengan Fatmawati. Dan karena Bu Fatmawati tidak mau dimadu, ia mintai cerai.

Ternyata setelah Bung Karno menikah dengan Bu Fat, beliau memperoleh putra-putri. Jadi apa yang diinginkan oleh Bung Karno yaitu anak, telah terpenuhi.

Sumber: Intisari
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved