Minggu, 3 Mei 2026

Catatan Harian Fatmawati Istri Bung Karno, Kisah Asmara hingga Mimpi Bendera Merah Putih

Buku Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno yang ditulis oleh Fatmawati, diterbitkan oleh Sinar Harapan

Tayang:
IndoCropCircles.worldpress.com
Foto Soekarno (Bung Karno) dan Fatmawati 

Buku ini memang catatan harian, yang melukiskan pengalamannya selama menjadi istri Bung Karno, sehingga dapat diikuti secara kronologis.

Karena itu pula buku ini dibagi dalam periode-periode, misalnya periode Bengkulu, periode zaman Jepang, periode Yogjakarta, periode Istana Merdeka, periode Sriwijaya, yaitu suatu masa di mana Bu Fat meninggalkan istana Merdeka karena beliau memprotes perkawinan Bung Karno dengan Ibu Hartini.

Setiap bagiannya dihiasi dengan foto-foto dalam periode tersebut dan memang karena sifatnya merupakan buku harian, pemaparannya subyektif sekali.

Bu Fat menulis dengan jujur dan dengan cara yang sederhana, mengabadikan apa-apa yang terpikir dan terasa, apa yang terjadi dan yang kejadiannya diketahui, sehingga ia merupakan kisah-kisah yang otentik.

Setelah Bung karno dengan resmi bercerai dengan Ibu Inggit, secara resmi Bung Karno melamar Ibu Fatmawati dan mereka menikah secara sederhana, juga bagaimana pengalamannya diculik para pemuda ketika menjelang hari Proklamasi.

Mereka dibawa ke Rengas Dengklok. Dan menarik juga kisah bendera pusaka yang dijahit Bu Fat, yang sekarang tidak lagi dikibarkan, karena sudah tua. Bendera itu sebenarnya dijahit tanpa mengetahui tujuannya yang sebenarnya.

Dengan nada yang sederhana Bu Fat menulis kejadian itu begini, "Pada waktu hamil, pernah aku bermimpi ada pedang putih (seperti samurai) turun dari langit suatu hari, tatkala kandunganku berusia 9 bulan, datanglah seorang perwira Jepang membawa kain dua blok. Yang satu blok berwarna merah, sedang yang lain berwarna putih.

Mungkin dari kantor Jawa Hokokai. Mempergunakan jahit tangan aku buat sehelai bendera merah putih yang besar, sebab tidak bolah lagi mempergunakan jahit kaki".

Kemudian bendera itu terpakai saat proklamasi dikumandangkan. Ibu Fat menulis ulang tentang suasana itu dengan mengesankan begini: "Setelah selesai memberikan pidatonya mulailah Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Aku lihat beberapa orang mengucurkan air mata, gembira bercampur haru. Tampak olehku Pak Suwiryo terisak-isak, demikian juga aku sendiri. Saat itu aku melihat banyak lelaki yang mengucurkan air mata. Aku lihat Bung Karno dan Bung Hatta bersalaman, sementara itu Pak Latief Hendraningrat mempersiapkan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih.

Aku bersama-sama dengan S.K. Trimurti menuju ke tiang Bendera. Upacara bendera dipimpin oleh Pak Latief dengan diiringi lagu Indonesia Raya, tanpa musik."

Masa-masa di Yogyakarta adalah masa yang sukar. Karena masa itu adalah masa yang setiap saat menyabung nyawa.

Misalnya saja aksi militer Belanda pertama dan kedua yang meminta korban nyawa dan harta benda.

Bu Fat termasuk orang terjun langsung dalam kancah perjuangan itu, di mana dia punya andil yang cukup besar bagi Revolusi, karena secara langsung bersama Bung Karno dan pemimpin masuk dalam arus pemerintahan dan medan laga.

Sebagai Ibu Negara, mau tidak mau setiap saat siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Dan dengan mencatat berbagai peristiwa yang dialami dan dilihat, diketahui dalam buku ini secara jujur, ia dapat dijadikan patokan sejarah.

Sumber: Intisari
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved